Beberapa tahun yang lalu aku juga sama sepertimu kawan. Saat
benak ini hanya dipenuhi oleh satu obsesi. Mendaki, mendaki dan mendaki, itu
saja. Namun, di tengah perjalanan akhirnya aku baru sadar akan sesuatu. Tak
harus menjadi seorang pencinta alam, jika kau hanya ingin berpetualang! Sebab,
mendaki sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukan hanya aku atau kamu,
tapi juga mereka.
Kurasa mendaki itu cuma butuh tiga hal saja kawan. Duit yang
cukup di tangan. Sedikit ketrampilan serta kekuatan. Dan, yang terpenting
adalah belas kasihan. Yah, belas kasihan, itu yang paling dibutuhkan oleh
seorang petualang. Bukankah karena sebuah belas kasihan Tuhan, puncak tinggi itu bisa kita gapai dengan
tangan? Bukankah karena setitik sifat Rahman-NYA pula kita bisa selamat pulang, dan kembali berkumpul dengan
keluarga?.
Kawan, mendaki itu bukan sebatas menumpuk dokumentasi di
situs jejaring pribadi. Bukan pula ajang pembuktian sebagai seorang pencinta
alam yang jantan. Jika itu saja yang ada dalam pikiranmu, kurasa kau masih
belum memahami esensi dari mendaki. Dari setiap cucuran keringat, disitu ada
mutiara hikmat. Dalam setiap perjalanan, disitu pula ada makna pelajaran
tentang kehidupan.
Saat kau dirundung gila tenar dan sanjung. Cobalah untuk
berdiri di puncak tinggi itu. Lihat kawan, adakah sorak sorai tepuk tangan penonton
yang mengitarimu. Adakah spanduk “selamat datang” yang menyambutmu? Mungkinkah
pula ada sebuah tropi yang bisa kau angkat tinggi-tinggi sebagai tanda
kemenanganmu?
Saat kau di puncak tinggi itu, mungkin saja kau merasa lebih
tinggi dari segalanya. Coba tengok di sekelilingmu. Kanan, kiri dan juga yang ada di atasmu. Lihat, bandingkan dirimu
dengan bentang alam yang menghampar di sana. Bayangkan dirimu ada diantaranya,
itulah sebenarnya dirimu. Kau tak lebih hanyalah sebuah noktah yang mungkin tak
nampak jika ditatap dari kejauhan. Masihkah kau merasa lebih tinggi? Jadi,
kenapa kita merasa seakan mampu memegang matahari? Bukankah di atas langit
masih ada langit kawan? Tak mungkin kita
mampu menggapai matahari itu. Bahkan untuk menatapnya saja, kau tak akan kuasa
oleh silaunya.
Berada di puncak yang paling tinggi, bukan berarti kita
telah menjadi pemenang sejati. Jangan
lupa kawan, semakin tinggi tempat kita berdiri, semakin kencang pula angin yang
menerpa di kanan kiri. Posisi tinggi dalam kehidupan bukanlah jaminan tidur
kita akan menjadi aman sekaligus nyaman. Sebab, bisa jadi ada angin dari luar
sana yang akan menerpamu secara bertubi-tubi. Sekencang-kencangnya, tanpa kau
sadari dari arah mana datangnya. Bahkan acapkali angin itu mencoba menjatuhkanmu
hingga posisi serendah-rendahnya. Tapi, santai saja kawan. Bukan itu yang perlu
kamu takuti. Jadikan saja ikhlas dan sabar sebagai tameng untuk menahan terpaan angin di luaran sana.
Kuhanya takut
hembusan angin kecil dalam diri yang justru akan menggoyahkan kaki
penopang kita berdiri. Tiupan angin dalam hati bernama sombong, riya’ dan
dengki, itulah yang harus kita waspadai. Jangan biarkan tiupan itu semakin
berhembus, menerobos dinding hati ini. Sebab, jika itu menjadi kebiasaan, bisa
jadi akan menjadi sindrom saat usia senja nanti. Saat rambutmu telah dipenuhi
uban, kau masih saja sibuk berebut pujian. Saat keriput mulai membalut kulitmu,
kau pun masih saja bernafsu memburu jempol-jempol itu.
Kawan, bukan berarti aku antipati pada kata-kata mendaki.
sebab, hingga hari ini petualangan itu masih kusenangi...
Jangan biarkan kegiatan kita di alam bebas ini, menjadi
sia-sia kawan,.. buat ia bermakna penuh hikmah dan menjadikan kita lebih yakin
akan keberadaan dan kekuasaan Allah swt,..
Kita hanya debu diantara belantara alam ini
kawan,..
Yuk jadikan diri sebagai pendaki gunung yang
RElEGIUS,..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar