Minggu, 25 Desember 2011
Silence
Namun ada orang-orang yang menganggap sesuatu yang tak terjangkau itu justru memiliki daya tarik khusus... panggilan terbaik untuk orang-orang seperti ini adalah eksentrik; dan yang terburuk, gila.. (Walt Unsworth)
Budaya hiruk pikuk
Kebudayaan masyarakat kota yang semakin hiruk pikuk seakan tak menyisakan lagi ruang untuk diam dan merasakan kesendirian. Namun mungkin kebanyakan orang pun tak lagi memerlukannya karena kini semua serba cepat, bebas dan transparan. Isi hati yang paling rahasia pun diumbar penuh ekspresi di blog. Bahkan tanpa harus meminta ijin, privasi orang dapat dikorek-korek oleh media dengan tanpa belas kasihan.
Jaman yang serba materilalistik ini telah menyeret kita untuk selalu terlibat ke dalam hiruk pikuknya. Di dunia materi, ikon budaya seperti supermall, hypermarket dan superblock berlomba-lomba dibangun di perkotaan sebagai magnet untuk menyedot manusia menjadi kerumunan yang semakin homogen. Sementara dunia maya tumbuh liar dengan ikon-ikon expresifnya seperti web, blog, friensdter dan berbagai akses informasi lain yang tak berbatas.
Lalu ditengah cepat dan sumpeknya arus informasi ini, masihkah penting arti sebuah sunyi dan keheningan? Dalam kultur materialistik seperti sekarang, sepi hanyalah ide yang asing dan marjinal. Dianggap hanya milik mereka yang tak memiliki akses kepada pusat-pusat budaya.
Padahal sebenarnya di tengah hiruk pikuk yang semrawut, manusia membutuhkan diam dan sunyi. Bukan sepi negatif sebagai cara melarikan diri dari realita (eskapisme) namun sepi positif yang bermakna. Kesunyian positif adalah kesunyian yang melepaskan diri dari tawanan dunia dan menghantarkan manusia kepada pintu gerbang pengetahuan yang maha luas.
Sunyi yang bermakna
Dari Crone Chronicles: A Journal of Crone Conscious Aging edisi 1999 setidaknya dapat disimak beberapa manfaat yang menakjubkan dari kesunyian itu. Manusia akan menyadari bahwa dirinya bukan sekedar individu dan kepribadian yang terpisah, namun merupakan bagian yang satu dari alam semesta, bagian dari energi yang memberi kehidupan.
Lewat kesenyapan, kepekaan manusia lebih tajam dan jernih. Indra kepekaan kita kian kuat memaknai hidup. Bahasa-bahasa dari dunia di luar manusia akan mulai terbaca oleh kita. Udara yang bergerak, air mengalir, desir pepohonan dan aroma tanah basah – semuanya memberi arti.
Kesunyian membuat manusia mengakrabi dirinya sendiri dan mulai mengenal organ-organ tubuh dan sistem kebutuhannya.Hal ini membawa manusia lebih peduli pada penderitaan orang menjadikan kita lebih sabar dan bersikap tegar.
Masa-masa pencarian jati diri kerap diwarnai perjalanan ke final frontier bersama tim mencari keheningan alam. Namun terkadang juga perjalanan ini hanya dilakukan seorang diri saja, tanpa informasi dan tak disadari oleh yang lain. Dari sekedar hiking di kawasan Priangan hingga pendakian solo ke gunung yang tinggi seperti Rinjani dan Kerinci. Bahkan ada pula rekan yang sendirian menelusuri lekuk pantai Sancang yang penuh suasana klenik itu.
Saya dapat membayangkan kesunyian abadi yang melingkupi para lone ranger itu, terlebih saat pergerakan berhenti lalu gelap serta hawa malam mulai merasuk. Hanya suara-suara hutan dan sebatang lilin yang menyala gemetar menemani petualang melewati keheningan bisu. Apabila beruntung tak diguyur hujan, cahaya bintang akan memayungi langit malam.
Pemandangan terindah
Sensasi apa yang mereka dapati seusai menuntaskan perjalanan spiritualnya tersebut merupakan suatu misteri. Apakah mereka melakukannya sebagai sebuah pelampiasan ego nya ataukah suatu pencarian yang bermakna. Namun yang paling menggelitik tentunya apakah para pengembara itu menikmati kesendiriannya yang nun jauh ditengah belantara hutan, jauh dari desa-desa terluar sekalipun.
Setelah turun dari pendakian gunung Sumbing (3371 mtr dpl) di Jawa Tengah bersama tim, saya berkesempatan melanjutkan pendakian ke gunung Sindoro (3153 mtr dpl) sementara yang lain kembali pulang ke Bandung. Dua hari kemudian dalam perjalanan turun dari pendakian gunung Sindoro, tak lama setelah fajar saya turun dari kaki gunung dan kemudian mulai memasuki lahan perkebunan.
Entahlah bila saya dinilai gagal dalam menikmati sunyi dan kesendirian, namun pemandangan terindah ketika melakukan perjalanan sendiri saat itu adalah momen berpapasan kembali dengan penduduk desa. Dalam suasana temaram masih diliputi kabut, dari kejauhan terlihat siluet para petani datang dalam sinar matahari pagi yang putih. Momen yang menggetarkan itu membuncahkan sensasi tersendiri dan membuat saya menyadari bahwa pemandangan terindah adalah manusia itu sendiri...
Inspiring : SAhabat
Kau Bukan Sang Penakluk...
Kau tidak pernah menaklukan sebuah gunung.
Kau hanya berdiri di puncaknya selama beberapa detik.
Kemudian tiupan angin menghilangkan jejak-jejak kakimu.
Ide untuk menaklukan alam merupakan obyek pemikiran manusia yang abadi. Manusia seakan tak rela ada kekuatan besar yang membuat ego mereka seperti tak berdaya. Maka berangkatlah para pionir dengan gagah berani untuk menaklukan final frontier dimanapun di segala penjuru bumi. Alam yang ganas harus dapat ditaklukan untuk kemaslahatan umat manusia. Seakan bumi yang lapang terlalu sesak bagi dua kekuatan besar alam dan manusia untuk saling berbagi. Seakan hanya boleh ada satu kekuatan saja yang dapat menguasai bumi, yaitu manusia.
Namun para petualang dan pionir yang pergi menjelajah bukannya tak menyadari kepongahan awal mereka. Para pemberani itu segera mendapatkan hikmah dari penjelajahannya bahwa alam tak dapat dilawan bahkan ditaklukan, manusia hanya bisa berdamai dengan kekuatannya. Yang perlu ditaklukan adalah ego yang menguasai diri manusia itu sendiri, dan alam adalah guru yang baik untuk mengajarkan hal itu. Sir Edmund Hillary – pendaki pertama yang mencapai Everest - menyadari betul hal itu ketika berkata ,” It is not the mountain we conquer, but ourselves...”.
Para penakluk
Kutub Utara berhasil ditaklukan oleh Robert Peary pada tahun 1909 dan kemudian pada tahun 1911 Kutub Selatan menyusul berhasil ditaklukan oleh Amundsen. Ketika itu, Everest kerap dijuluki sebagai Kutub Ketiga yang merupakan kontur bumi paling menarik untuk dijelajahi. Setiap pendaki profesional mendambakan suatu saat dapat menaklukan puncak tertinggi di dunia itu.
Kemudian setelah Hillary dan Tenzing berhasil menjejakkan kaki mereka di puncak Everest, semua bertanya-tanya penjelajahan ekstrim apa lagi yang dapat dilakukan oleh seorang manusia. Dick Bass dan Pat Morrow memunculkan wacana Seven Summits yang bertujuan mengoleksi tujuh puncak tertinggi di tiap benua. Adapula ide untuk mendaki keseluruh 14 “puncak kematian” di gunung-gunung berketinggian diatas 8000 meter di Pegunungan Himalaya.
Tercatat hanya lima orang pendaki di dunia yang berhasil mengoleksi keseluruh 14 puncak yang merupakan piala paling didamba para pendaki elite itu. Reinhold Messner, pendaki pertama yang berhasil memuncaki keempatbelas gunung kematian itu, menyebutkan bahwa tantangan sesungguhnya pada pendakian puncak 8000 meter adalah pendakian yang dilakukan tanpa alat bantu oksigen. Itulah batas ketahanan maksimal seorang pendaki. Entah ide “gila” apa lagi yang akan muncul kemudian untuk menjajal keperkasaan alam.
Menaklukan alam seperti mendaki puncak-puncak gunung merupakan ide yang menggoda para petualang. Namun jauh hari setelah melewati berbagai petualangan barulah mereka menyadari bahwa manfaat sebenarnya dari perjalanannya itu bukanlah masalah menaklukan alam, karena kekuatan alam terlampau besar untuk dilawan. Menaklukan diri sendiri merupakan pencapaian tertinggi dari perjalanan itu, dan Sang Alam lah guru yang mampu memberi petunjuknya.
Mencintai alam
Banyak pendaki yang pergi untuk menaklukkan puncak gunung hanya untuk suatu saat kembali padanya. Apakah anda hanya mendaki gunung Gede atau berarung jeram di sungai Cimanuk hanya sekali saja seumur hidup? Tidak, ada hasrat yang mendorong petualang kembali kesana. Mungkin ketika pertama kali melakukannya kita merasa tertantang untuk menaklukan puncak gunung setinggi 2.958 m atau jeram dengan grade 3-4 itu demi memuaskan ego. Namun ketika mendatangi untuk kesekian kalinya, baru kita tersadar bahwa rasa cintalah yang membawa kembali kesana. Dan ketika rasa cinta telah menjalari, tak sebersitpun terpikir untuk menaklukan. Hanya ada kerinduan yang sangat dan kegelisahan yang menyiksa untuk dapat bersua.
Para petualang menyadari hal itu sehingga tak pernah mengharapkan balasan apapun dari sang alam selain dapat sekedar kembali bercengkerama dengannya. Saya yakin bahwa ketulusan untuk mencinta tak pernah sia-sia. Maka ketika kita menjelajahi alam dengan rasa cinta alam yang sesungguhnya, alam pun membalas sepenuhnya.
Sang alam berbinar-binar ketika petualang melewati berbagai tempaan berat hanya untuk mendatanginya kembali. Siapakah yang tak bahagia didatangi oleh kekasihnya? Terkadang sang alam memang menghadirkan badai dahsyat dan bencana, bukan untuk mencelakakan namun hanya untuk memberikan kekuatan lebih pada petualang. Bukankah dengan demikian mereka akan menjadi lebih tabah, arif dan matang.
Cinta yang agung
Maka ketika ada insan petualang yang roboh di gunung tinggi atau tewas ditelan jeram, tak hanya sesama manusia yang meratapi kehilangannya namun sang alam pun menangis sendu. Sosok jenazah itu ia peluk dengan doa-doa dan keharuan yang mendalam sebelum sesama manusia menjemputnya untuk ditempatkan di peristirahatan yang terakhir. Hingga kini pun masih banyak sosok insan petualang yang gugur tak diketahui rimbanya. Barangkali sang alam masih teramat mencintai mereka dengan alasan yang tak dapat kita pahami.
Ada aura percintaan misterius yang terjalin antara sang petualang dan alam yang didatanginya. Mereka yang pergi melakukan petualangan seperti mendaki gunung atau mengarungi jeram berpikir telah melakukannya dengan cinta. Barangkali mereka tak pernah tahu bahwa sang alam menyayangi mereka dengan berlipat-lipat. Cintanya yang besar kepada manusia tak akan pernah habis. Ia bahkan selalu melindungi mereka dari kekuatannya sendiri yang maha penghancur.
Dan bila Tuhan memerintahkannya mengambil nyawa mereka, sang alam pun dengan bersujud membelai mereka sebelum menyerahkan nyawa para manusia terpilih itu pada Sang Pencipta. Sang alam melakukannya dengan tersenyum, karena saat itu ada cinta lebih besar yang datang bagi manusia. Ia tahu Tuhan memerintahkannya mengambil hidup manusia karena suatu kecintaan yang lebih agung dan tak tertakar. Lebih dari semua cinta yang dapat ia beri kepada ...
Isnpiring: Sahabat.."
Puncak,...Sebuah kerendahan hati...
Kerendahan hati mengalirkan kebaikan
Mendaki gunung adalah peristiwa yang menakjubkan. Bagi mereka yang pernah berdiri di puncak tertinggi, pasti merasakan hati yang berdesir saat menyaksikan salah satu pemandangan paling menakjubkan seumur hidupnya. Sensasi untuk berdiri di titik paling tinggi merupakan sebuah pencapaian tersendiri yang tak terungkapkan. Semua rasa lelah dan penderitaan dalam menempuh perjalanan berat penuh bahaya seolah tiada berarti.
Selama dalam perjalanan maupun saat di puncak, akan terbukalah mata hati betapa kecilnya manusia dibanding keperkasaan alam dan Sang Pencipta. Siapapun akan tertegun melihat landscape keindahan tiada tara yang dapat disaksikan dari puncak gunung. Karya arsitektur manusia paling memukau sekalipun seperti tak berharga dibandingkan kontur alam yang menakjubkan ini. Menyaksikan sun rise dari puncak gunung adalah momen paling sulit untuk membendung takjub, terpukau oleh fenomena yang mengaduk-aduk emosi.
Alangkah tak wajar bila seorang pendaki malah menjadi tinggi hati setelah melakukan pendakian. Bukankah hanya dengan keramahan dan kelembutan alam saja seorang pendaki dapat menapaki jalan ke puncak. Banyak pendakian yang berakhir tragis, saat alam menjadi tak ramah. Sanggupkah kiranya mahluk lemah seperti manusia berkutik menghadapi kekuatan alam yang tak tertakar? Seorang pendaki sejati pulang dengan kerendahan hati yang semakin membuatnya terpekur.
Edmund Hillary yang merupakan pendaki pertama yang mencapai puncak tertinggi di dunia adalah sebuah contoh kerendahan hati itu. Ia selalu menyebut dengan “kami” dalam pemuncakannya yang legendaris di Everest. Baru sekian tahun setelah Tenzing Norgay – sherpanya saat detik-detik pemuncakan Everest- meninggal, Hillary mengakui bahwa ialah yang pertama mencapai puncak tertinggi di dunia itu.
Hilary pun tak sekedar mendaki Everest, yayasan Himalayan Trust yang didirikannya membantu membangun rumah sakit, sekolah, sarana kesehatan, jembatan bahkan landasan pesawat yang sangat membantu masyarakat sherpa di Kumbu, Nepal. Hingga akhir hidupnya Hillary tetaplah seorang yang rendah hati dan gemar hidup sederhana.
Padahal pendaki yang memiliki raut muka sekeras batu karang ini bagai pusaka nasional di negaranya, Selandia Baru.
Kata-katanya amat berpengaruh dan dihormati. Ratu Inggris menganugerahinya gelar Sir dan wajahnya pun diabadikan dalam lembaran kertas lima dolar mata uang Selandia Baru. Para pemandu profesional yang biasa mengantar tim ke Everest pernah kelabakan ketika Hillary mengkritik komersialisasi Everest dan menyebutnya sebagai “penghinaan pada gunung tersebut”. Sang legenda Everest ini begitu menghormati Himalaya dan kehidupan di sekitarnya. Sir Edmund Hillary wafat tanggal 11 Januari 2008 lalu dengan meninggalkan banyak kenangan dan jejak kebaikan.
Saya rasa tak penting menceritakan berapa kali kita telah mendaki sebuah gunung atau kemana saja kita telah melakukan pendakian. Namun apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik setelah melakukannnya. Apakah kita telah memberikan manfaat bagi sesama dan menjadi pribadi yang indah bagi orang lain. Saya teringat segelintir pahlawan yang selalu enggan membicarakan jasa-jasanya bila ada yang bertanya. “Biarlah Tuhan saja yang menilai”, tuturnya. Menakjubkan...
InSpiring: Sahabat.."
Selasa, 29 November 2011
Berdekatan dan saling Mengikuti...***
Salam hangat penuh cinta dari hati kecilku yang paling dalam duhai sahabat2 ku yang dimuliakan Allah SWT. Ketahuilah duhai sahabat, Cinta dan Benci itu ada, berdekatan dan malah saling mengikuti...
Sahabat,..
Boleh jadi kamu menyukai banyak hal, tapi pasti, cintamu hanya satu. Mungkin cintamu itu terbagi, terjatuh, terbalas dan bersahutan kepada sosok dan situasi, tapi pasti tak abadi. Ada ujung dan kekecewaan, ada kala tak berbalas...
Ketahuilah, hanya satu Cinta yg pasti abadi dan bersahutan... itulah Sejatinya Cinta, mencintai Dzat yang selamanya mencintaimu
Sahabat,.. Dalam hal cinta, kita tidak perlu guru untuk belajar mencintai,
Tunas tunasnya telah tertanam dalam penciptaan fitrah manusia hingga semua memilikinya..
Begitupun benci, kita tidak usah membebani diri untuk menolaknya kita hanya harus mengarahkan dan menjaga keseimbanganya.
Sahabat,..Jangan sedih dan kecewa ya,..
Renungkanlah lagi, cinta dan kebencian adalah tenaga natural spektakuler yang menggerakkan kehidupan. Manusia yang cerdas adalah ia yang bisa mengalirkan energi besar dari 'kebencian yang mendalam' itu kepada titik pencapaian yang ia tuju.
Jika gerimis khawatir mulai bertaburan menuruni senja dihatimu. Dan orang orang yg menjadi sumber harapan mulai membencimu,. Perhatikanlah baik baik, ada banyak sosok lain disekitar hatimu.
Sahabat,..
Saat hatimu merasa terjebak dalam hal tersulit, saat tidak ada celah dan penolong.. sesungguhnya, disanalah Allah ada, selalu ada untukmu. Untuk yang mengingatnya atau yang melupakannya..
Bersabarlah lagi duhai sahabat ku..
Karena sabar itu bukan pilihan, tapi keharusan..Saat dicela itu-lah keistiqamahan kita di uji, jangan menyerah, jangan patah. Tersenyumlah, para pencela itu hanya iri kepadamu, dia sendiri tak sadar bahwa dia menghina dari tempat yang jauh lebih rendah..
"Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah". (HR. Tirmidzi)
Ketahuilah duhai sahabat,..Bahwa suasana hati manusia slalu berubah ubah..sayang lalu benci..Tapi kasih sayang Allah tidak pernah berubah. Ingat bahwa semua dari kita telah diberi kepercayaan oleh Allah untuk hidup di hari ini, mencari kebahagiaan dan bekal. Dialah Tuhan yang telah membangunkan kita dari lelap tadi malam..
Islam mengajarkan kita maaf, memaafkan dengan sempurna.
Lupakan siapa yang bersalah atau siapa yang seharusnya minta maaf.
Lembutkan hatimu dan ulurkanlah maaf, karena minta maaf tidak akan merugikan amal dan harta kita,...So,..
Maafkanlah daku jikalau setiap perkataan dan perbuatan ku telah menoreh luka di hatimu duhai sahabat2 ku... Maaf ya,..
Sahabat,..
Boleh jadi kamu menyukai banyak hal, tapi pasti, cintamu hanya satu. Mungkin cintamu itu terbagi, terjatuh, terbalas dan bersahutan kepada sosok dan situasi, tapi pasti tak abadi. Ada ujung dan kekecewaan, ada kala tak berbalas...
Ketahuilah, hanya satu Cinta yg pasti abadi dan bersahutan... itulah Sejatinya Cinta, mencintai Dzat yang selamanya mencintaimu
Sahabat,.. Dalam hal cinta, kita tidak perlu guru untuk belajar mencintai,
Tunas tunasnya telah tertanam dalam penciptaan fitrah manusia hingga semua memilikinya..
Begitupun benci, kita tidak usah membebani diri untuk menolaknya kita hanya harus mengarahkan dan menjaga keseimbanganya.
Sahabat,..Jangan sedih dan kecewa ya,..
Renungkanlah lagi, cinta dan kebencian adalah tenaga natural spektakuler yang menggerakkan kehidupan. Manusia yang cerdas adalah ia yang bisa mengalirkan energi besar dari 'kebencian yang mendalam' itu kepada titik pencapaian yang ia tuju.
Jika gerimis khawatir mulai bertaburan menuruni senja dihatimu. Dan orang orang yg menjadi sumber harapan mulai membencimu,. Perhatikanlah baik baik, ada banyak sosok lain disekitar hatimu.
Sahabat,..
Saat hatimu merasa terjebak dalam hal tersulit, saat tidak ada celah dan penolong.. sesungguhnya, disanalah Allah ada, selalu ada untukmu. Untuk yang mengingatnya atau yang melupakannya..
Bersabarlah lagi duhai sahabat ku..
Karena sabar itu bukan pilihan, tapi keharusan..Saat dicela itu-lah keistiqamahan kita di uji, jangan menyerah, jangan patah. Tersenyumlah, para pencela itu hanya iri kepadamu, dia sendiri tak sadar bahwa dia menghina dari tempat yang jauh lebih rendah..
"Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah". (HR. Tirmidzi)
Ketahuilah duhai sahabat,..Bahwa suasana hati manusia slalu berubah ubah..sayang lalu benci..Tapi kasih sayang Allah tidak pernah berubah. Ingat bahwa semua dari kita telah diberi kepercayaan oleh Allah untuk hidup di hari ini, mencari kebahagiaan dan bekal. Dialah Tuhan yang telah membangunkan kita dari lelap tadi malam..
Islam mengajarkan kita maaf, memaafkan dengan sempurna.
Lupakan siapa yang bersalah atau siapa yang seharusnya minta maaf.
Lembutkan hatimu dan ulurkanlah maaf, karena minta maaf tidak akan merugikan amal dan harta kita,...So,..
Maafkanlah daku jikalau setiap perkataan dan perbuatan ku telah menoreh luka di hatimu duhai sahabat2 ku... Maaf ya,..
Rabu, 23 November 2011
Gema dan Pantulan Gunung
Seorang anak kecil dan ayahnya sedang berjalan di sebuah gunung. Tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit, "Aaaaahhh!!!" Betapa kagetnya ia, ketika mendengar ada suara dari balik gunung, "Aaaaahhh!!!"
Dengan penuh rasa ingin tahu, ia berteriak, "Hai siapa kau?" Ia mendengar lagi suara dari balik gunung, "Hai siapa kau?"
Ia merasa dipermainkan dan dengan marah berteriak lagi, "Kau pengecut..!!" Sekali lagi dari balik gunung terdengar suara, "Kau pengecut..!!"
Ia lalu menengok ke ayahnya dan bertanya, "Ayah, sebenarnya apa yang terjadi?" Ayahnya tersenyum dan berkata, "Anakku, mari perhatikan ini" Kemudian ia berteriak sekuat tenaga pada gunung, "Aku mengagumimu..!!" Dan suara itu menjawab, "Aku mengangumimu..!!" Sekali lagi ayahnya berteriak,"Kau adalah sang juara..!!" Suara itu pun menjawab lagi,"Kau adalah sang juara..!!"
Anak itu merasa terheran-heran, tapi masih juga belum memahami. Kemudian ayahnya menjelaskan, "Nak, orang-orang menyebutnya GEMA, tetapi sesungguhnya inilah yang dimaksud dengan hidup itu. Ia akan mengembalikan padamu apa saja yang kau lakukan dan katakan. Hidup kita ini hanyalah refleksi dari tindakan kita. Bila kau ingin mendapatkan lebih banyak cinta kasih di dunia ini, maka berikanlah cinta kasih dari hatimu. Bila kau ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain, maka berikanlah kebaikan dari dirimu.
Hal ini berlaku pada apa saja dan pada semua aspek dalam hidup. Hidup akan memberikan apa yang telah kamu berikan padanya. Maka, sebenarnya hidup ini BUKAN SUATU KEBETULAN. Hidup adalah pantulan dari dirimu; gema dirimu."
Untuk seseorang yang suatu saat kan kutemukan..***
Tentang dia…….
Aku melihatnya dalam siluet senja
Terbalut jilbab besarnya
Berdiri terpesona
Memandang lepas horison penuh makna
Angin senja mengabarkan padaku
Getar Subhanallah yang terucap dari bibirnya
Diantara deru ombak yang membasahi kaus kakinya
Terucap Subhanallah dalam hatiku
Atas hamba yang tafakur dalam geraknya
Terpesona dalam medannya
Tergerak menuju cita
Dibatas horison itu, dia yakin akan surga
Keyakinan yang menghunjam dada
Menggetar bibir untuk berdzikir
Merentang tangan untuk sesama
Menebar senyum penuh damai
Menuturkan bahasa lembut yang menyentuh
membuka hati yang biru untukku mengadu
Tentang dia…..
Hamba dalam siluet senja itu
Tertangkup tangan doa bahagia untuknya
Terbisik harapan pada Robbi…
Ya Allah….
Izinkan aku menggelar sajadah bersamanya
Beralas cinta berujung surga
Yang menenggelamkan kami dalam sujud penuh kerinduan kepada-Mu
Dalam takbir yang mengakui Keagungan-Mu
Dalam salam yang mengingatkan kami bermanfaat bagi sesama
Dalam wudhu yang membersihkan hati kami untuk melihat Wajah-Mu
Dalam tilawah yang kami lantunkan penuh haru
Dalam dzikir yang tiada akhir
Yang membuat kami semakin kagum akan Pesona-Mu
Menyukuri ayat-ayat Cinta-Mu yang Kau bentangkan pada kami
Yang menetapkan kami menjadi Akhlakul Karimah Rohmatan lil Alamin
Ya Allah….
Izinkan aku menggelar sajadah bersamanya
Amin……………………………
Senin, 21 November 2011
Satu Jam Saja, Aku akan Coba...."
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?"
Ayahnya menjawab sambil tersenyum : "tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" tanyanya lagi.
Ayahnya berkata: "tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?"
Lagi-lagi ayahnya berkata : "Tak mungkin, nak."
"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" gadis kecil itu bertanya lagi.
Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab: "mm ..... mungkin bisa, nak."
"Lalu.... bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, yah? Bisakah?"
Ayahnya tertawa dan berkata : "Nah, kalau itu pasti bisa, nak."
Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata : "Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam, waktu demi waktu, momen demi momen, supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya?"
"Seteleh kembali Ke Fitrah akankah kita kembali menuai dosa?, semoga dengan renungan ini kita mampu menjaganya dengan dimulai 1 jam tanpa dosa"....>>>
***Sahabat, Mari kita saling mengingatkan satu sama lain diantara kita, semoga dengan demikian kita senantiasa terjaga dari dosa***
Jumat, 18 November 2011
Baca Nulis Yuuukkk...***
Sebetulnya, saya adalah orang yang sangat senang membaca dan menulis,..(itupun kadang2 sich..hehehe) Menurut saya membaca dan menulis itu sama pentingnya, karena dengan begitu, pengetahuan saya berkembang dan mengurangi ketidaktahuan saya. Tapi, menulis itu menurut saya tidaklah mudah, karena pasti selalu ada hambatan dalam melakukan aktivitas menulis. Rasa malas, atau bingung karena tidak tahu apa yang harus ditulis. itulah yang sering mengancam.
Tapi, akhir-akhir ini, semangat saya untuk terus belajar menulis semakin membara, entah kenapa, dan saya bersyukur atas itu :) . Aktivitas membaca saya pun terus meningkat, dengan begitu, saya bisa mengaktifkan otak saya secara efektif kembali dengan menambah pengetahuan dan wawasan saya setelah 'tertidur' karena kemalasan akut...semoga berkelanjutan semangat baca n nulisnya juga gitu...
Semoga, saya bisa lebih baik dari sekarang, dan lebih banyak melakukan 'produksi' dari pada 'tertidur' (lagi)...*ngaku juga nich kalo suka tidur.. :)
Membaca dan menulis memiliki hubungan mesra, bak adam dan hawa yang sedang memadu cinta. Jadi kalau mau menulis ya harus membaca dulu, dan kalau membaca harus ditulis poin-poin pentingnnya,..
Dengan membaca pula, kita bisa siap setiap saat untuk menuangkan pendapat kita ke dalam sebuah tulisan… so,
Ide menulis bisa kita ambil darimana saja. Yang penting itu layak untuk kita tuliskan. Bisa pengalaman diri sendiri atau orang lain. Bisa juga kejadian atau peristiwa menarik yang menurut kita memang perlu untuk kita tulis...
Tak dipungkiri bahwa membaca dan menulis belum mentradisi dalam keseharian masyarakat kita. Padahal dua hal itu sangat penting sebagai bekal menjadi manusia berkualitas terutama dalam hal menambah wawasan dan kecerdasan...
Sahabat,.yuk kita senantiasa membaca jangan hanya OL aja yang dibanyakin…OKey!!!
Tapi, akhir-akhir ini, semangat saya untuk terus belajar menulis semakin membara, entah kenapa, dan saya bersyukur atas itu :) . Aktivitas membaca saya pun terus meningkat, dengan begitu, saya bisa mengaktifkan otak saya secara efektif kembali dengan menambah pengetahuan dan wawasan saya setelah 'tertidur' karena kemalasan akut...semoga berkelanjutan semangat baca n nulisnya juga gitu...
Semoga, saya bisa lebih baik dari sekarang, dan lebih banyak melakukan 'produksi' dari pada 'tertidur' (lagi)...*ngaku juga nich kalo suka tidur.. :)
Membaca dan menulis memiliki hubungan mesra, bak adam dan hawa yang sedang memadu cinta. Jadi kalau mau menulis ya harus membaca dulu, dan kalau membaca harus ditulis poin-poin pentingnnya,..
Dengan membaca pula, kita bisa siap setiap saat untuk menuangkan pendapat kita ke dalam sebuah tulisan… so,
Ide menulis bisa kita ambil darimana saja. Yang penting itu layak untuk kita tuliskan. Bisa pengalaman diri sendiri atau orang lain. Bisa juga kejadian atau peristiwa menarik yang menurut kita memang perlu untuk kita tulis...
Tak dipungkiri bahwa membaca dan menulis belum mentradisi dalam keseharian masyarakat kita. Padahal dua hal itu sangat penting sebagai bekal menjadi manusia berkualitas terutama dalam hal menambah wawasan dan kecerdasan...
Sahabat,.yuk kita senantiasa membaca jangan hanya OL aja yang dibanyakin…OKey!!!
Rabu, 16 November 2011
Tadabur Alam Ke Puncak Gunung Talang
Di antara perkara yang dapat melapangkan dada dan meleyapkan awan kesedihan dan kesusahan adalah berjalan menjelajah negeri dan membaca “buku penciptaan” yang terbuka lebar ini untuk menyaksikan bagaimana pena-pena kekuasaan menuliskan tanda-tanda keindahan di atas lembaran-lembaran kehidupan. Betapa tidak, karena anda akan banyak menyaksikan taman, kebun, sawah dan bukit-bukit hijau yang indah mempesona.
Keluarlah dari rumah, lalu perhatikan apa yang ada di sekitar Anda, di depan mata anda, dan di belakang Anda! Dakilah gunung-gunung, jamalah tanah di lembah-lembah, panjatlah batang-batang pepohonan, reguklah air yang jernih, dan ciumkan hidungmu di atas bunga mawar! Pada saat-saat yang demikian itu, Anda akan menemukan jiwa Anda benar-benar merdeka dan bebas seperti burung yang berkicau melafalkan tasbih di angkasa kebahagiaan. Keluarlah dari rumah Anda, tutup kedua mata Anda dengan kain hitam, kemudian berjalanlah di bumi Allah yang sangat luas ini dengan senantiasa berdzikir dan bertasbih.
Salam Lestari.....
Yuk,.. Sobat n teman2 semuanya kita naik gunung talang bersama
yg mana b'tujuan tuk memperat tali persaudaraan kita sekaligus tadabur Alam dan Muhasabah diri di Akhir tahun 2011 ini...
dari yg tak kenal maka akan menjadi kenal sekaligus kita akan bisa banyak belajar pada alam secara lansung dan muhasabah terhadap penciptaan diri & Alam ini..
insya allah pendakian ini akan memberi manfaat bagi kita semua..>>
hmm..masalah biaya ringan koq...
cuma Rp. 150.000; ajah
dengan Fasilitas yang didapat:
1. Ongkos PP dari Solok Ke Lokasi pendakian
2. Snack
3. Dinner
4. T-Shirt
5. tenda
6. Dokumentasi
7. door prize..
Adapun View yang dapat dilihat dalam perjalan menuju puncak sangatlah beragam.. ini ane kasih bocoran dikit ...
ada lagi nich
sebenarnya masih banyak lagi Sob..tapi cuma ini yang bisa ane tampilkan ...Narsiss dkit,..hehehe
tuk info lengkap bisa menghubungi;
Ridho +6281363254327
yahya +6281266402959
peserta terbatas Loch...
maka'a buruan daftarkan diri anda beserta kawan2...
batas pendaftaran sampe tgl 25 desember .... Okey
Keluarlah dari rumah, lalu perhatikan apa yang ada di sekitar Anda, di depan mata anda, dan di belakang Anda! Dakilah gunung-gunung, jamalah tanah di lembah-lembah, panjatlah batang-batang pepohonan, reguklah air yang jernih, dan ciumkan hidungmu di atas bunga mawar! Pada saat-saat yang demikian itu, Anda akan menemukan jiwa Anda benar-benar merdeka dan bebas seperti burung yang berkicau melafalkan tasbih di angkasa kebahagiaan. Keluarlah dari rumah Anda, tutup kedua mata Anda dengan kain hitam, kemudian berjalanlah di bumi Allah yang sangat luas ini dengan senantiasa berdzikir dan bertasbih.
Salam Lestari.....
Yuk,.. Sobat n teman2 semuanya kita naik gunung talang bersama
yg mana b'tujuan tuk memperat tali persaudaraan kita sekaligus tadabur Alam dan Muhasabah diri di Akhir tahun 2011 ini...
dari yg tak kenal maka akan menjadi kenal sekaligus kita akan bisa banyak belajar pada alam secara lansung dan muhasabah terhadap penciptaan diri & Alam ini..
insya allah pendakian ini akan memberi manfaat bagi kita semua..>>
hmm..masalah biaya ringan koq...
cuma Rp. 150.000; ajah
dengan Fasilitas yang didapat:
1. Ongkos PP dari Solok Ke Lokasi pendakian
2. Snack
3. Dinner
4. T-Shirt
5. tenda
6. Dokumentasi
7. door prize..
Adapun View yang dapat dilihat dalam perjalan menuju puncak sangatlah beragam.. ini ane kasih bocoran dikit ...
ada lagi nich
sebenarnya masih banyak lagi Sob..tapi cuma ini yang bisa ane tampilkan ...Narsiss dkit,..hehehe
tuk info lengkap bisa menghubungi;
Ridho +6281363254327
yahya +6281266402959
peserta terbatas Loch...
maka'a buruan daftarkan diri anda beserta kawan2...
batas pendaftaran sampe tgl 25 desember .... Okey
Mari Kita Saling Mengerti dan Memahami
Dalam kehidupan kita ini, dalam hubungan antar manusia begitu banyak timbul masalah dan perselisihan dan tak jarang diakhiri dengan permusuhan. Kemarahan dan pertikaian pun sering terjadi, semua ini karena kita tak saling mengerti dan memahami..
Adakalanya yang satu mengerti, tetapi tetap mengikuti keinginan yang tidak mengerti. Padahal yang mengerti seharusnya menghindari atau minimal memberi pengertian pada yang tidak mengerti, sehingga timbul kesaling pengertian.
Mari kita berkaca pada peristiwa selama ini yang membuat kita tak sadar akan siapa diri kita, makhluk yang punya Nurani yang tidak sepantasnya untuk melakukan hal-hal yang selama ini telah terjadi. Pertikaian, permusuhan dan kebencian serta saling menghakimi…
Mari kita akhiri semua ini…untuk mulai menanamkan saling pengertian dan hati yang memaklumi diantara kita..
Mari kita saling berpegang tangan, didalam perbedaan tapi tidak membedakan….
Mari kita sadari bahwa selama ini kita salah menjalani hidup ini
Marilah kita mulai berintrospeksi diri dan,,.
Mohon ampunan pada Sang Illahi Rabbi..
Mari kita mulai untuk saling mengasihi,..Antara aku, engkau dan dia, serta mereka,..Untuk sebuah kehidupan yang lebih indah dan berarti…”
Sungguh aku mengharukan diriku sendiri dengan linangan air mata saat menuliskan semua ini, pasti selama ini hidupku tidak saling mengerti dan memahami dengan yang lain.
Maafkanlah diriku duhai sahabat dan teman2 semuanya..Kadang kata yang terlontar dari mulut ini sering menoreh luka dihati,..Kadang sikap dan perbuatan sering membuat terzholimi,.. untuk itu duhai sahabat dan teman2 semuanya aku mohon kemaafan dari kalian semua…
Terimakasih, Ya Allah….Sungguh Engkau telah membuka hati ini……
Semoga Bermanfaat bagi kita semua…
Jumat, 11 November 2011
Inilah Hidup,...Ibarat Sebuah Buku..!!!
Manusia itu seperti Sebuah “Buku”….
Cover depan adalah tanggal lahir.
Cover belakang adalah tanggal kematian.
Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.
Ada buku yg tebal, ada buku yg tipis.
Ada buku yg menarik dibaca, ada yg sama sekali tidak menarik.
Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di’edit’ lagi.
Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya,
selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih,
baru dan tiada cacat.
Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin,
Allah SWT selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yg benar dalam hidup kita setiap harinya.
Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita
dan melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkanNYA.
Terima kasih ya Allah untuk hari yang baru ini..
Syukuri hari ini….
dan isilah halaman buku kehidupanmu dengan hal2 yang baik semata.
Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu berdoa dan mohon petunjuk kepada Allah SWT,
tentang apa yang harus ditulis tiap harinya.
Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai,
kita dapati diri ini sebagai pribadi yang diridhai Allah SWT.
Dan buku kehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak2 kita
dan siapapun setelah kita nanti.
Selamat menulis di buku kehidupanmu,
Menulislah dengan tinta dengan cinta
dan penuh rasa kasih sayang,
serta pena kebijaksanaan.
Aku berdoa dan berharap :
“agar Allah SWT selalu menyertai setiap langkahmu”
karena…..
Allah SWT tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru,
Bunga selalu mekar,
dan Mentari selalu bersinar..
Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai,
Senyum disetiap air mata,
Berkah disetiap cobaan,
dan jawaban disetiap doa.
Jangan pernah menyerah, Teruslah berjuang...
Selasa, 31 Mei 2011
The Immortal Flower..."Edelweis" (Hikmah)
Bunganya putih berseri, sedap elok di pandang mata, bergumul menjadi satu, tanda persahabatan di antaranya. Semampai indah wujudnya, ternyata menyimpan begitu banyak hikmah untuk kita, untuk makhluk yang Allah ciptakan sebagai penjaga alam semesta. Karena itu, mari kita belajar dari Edelweis…
Edelweis, sebuah bunga yang di sebut-sebut sebagai bunga abadi, ternyata Allah meyimpan banyak hikmah untuk manusia di dalamnya. Bunga ini, pertama kali ku lihat, tumbuh di Bukit Cadas, di alun-alun yang berada beberapa ratus meter sebelum puncak Gunung Talang.
Edelweiss, putih kecil, tak terlalu harum, namun tak mengurangi kecantikannya. Setiap bunganya yang gugur dan jatuh menyentuh tanah, dengan izin Allah, bunga tersebut akan tumbuh kembali menjadi satu pohon Edelweiss yang baru. Keunikannya ini yang menjadikannya mendapat julukan ‘The Immortal Flower’ atau ‘Bunga Abadi’.
Bunga ini mampu hidup dengan suhu yang menurutku di ‘Bukit Cadas’ itu di bawah 17 derajat celcius. Dengan suhu serendah itu, banyak pendaki yang berada di BC menggigil tak karuan, berusaha mencari tempat paling hangat untuk beristirahat, atau bahkan, secara tidak sengaja mengutuk Tuhan-nya dengan mengatakan “sialan! Dingin banget si di sini!!”. Namun tidak si kecil Edelweiss, tetap mentaati ketetapan Tuhan-nya, dan mensyukuri nikmat Tuhan-nya di tempat ia tumbuh.
Dia tetap tumbuh dengan terus menebar keindahan tak peduli apapun keadaan di sekitarnya, dinginkah, panaskah, dia tetap memiliki keyakinan kepada Allah, bahwa keadaan di sekitarnya itu tak menjadikan dirinya takluk, karena dia memiliki sandaran yang kuat, dia memiliki Tuhan yang Maha Besar, Allah Swt Seperti itulah seharusnya manusia! Menjadi manusia yang selalu yakin akan Allah, Tuhan-nya.
Edelweiss mengajarkan kita untuk senantiasa bangkit dari keterpurukan. Gugurnya sehelai Edelweiss, mampu menghasilkan puluhan bunga yang sama atau bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya. Begitulah seharusnya kita manusia dalam menghadapi keterpurukan di dalam hidup kita.
Berapa kalipun kita gagal, jangan pernah anggap itu sebagai kegagalan, jadikan itu sebuah penemuan, penemuan ‘cara yang salah’. Karena seorang penemu tak pernah langsung berhasil dalam percobaannya, mereka juga pernah gagal, tapi mereka menganggap kegagalan mereka adalah penemuan ‘cara yang salah’, bukan penemuan ‘kegagalan’. Dan kita harus meyakini, bahwa kita akan dan pasti, menemukan suatu ‘cara yang benar’ untuk menghadapi permasalahan yang Allah ujikan.
kita sering berada di bawah roda kehidupan, ketika kondisi kita seperti itu, sungguh indah jika kita menjadi seperti Edelweiss yang gugur, dia bisa tumbuh kembali menjadi bunga, mengapa kita manusia yang ‘gugur’ dalam ujian-Nya, tak mampu bangkit kembali menjadi manusia yang memiliki ‘bunga’ yang indah?
Seandainya kita memiliki kelebihan yang Allah berikan, maka yakinlah, ada kekurangan dalam diri kita. Jangan pernah sombongkan kelebihan itu di hadapan orang lain. Jadilah seperti Edelweiss, dia memiliki keindahan dengan keabadiannya, namun dia memiliki kekurangan, yaitu harumnya tak semerbak seperti bunga yang lainnya. Bunga se-indah Edelweiss pun memiliki kekurangan, maka, manusia se-‘indah’ apapun, pasti memiliki kekurangan, karena itu, jangan pernah sombong dengan apa yang kita miliki saat ini.
Banyak anak yang tamak dengan ilmu yang dia miliki, sampai-sampai tanpa sadar menyakiti perasaan temannya dengan kesombongan yang dia lakuan, entah sengaja atau tidak. Banyak juga anak muda, yang sombong dengan hartanya, di pamerkan ke segala penjuru, agar teman-temannya mengetahui bahwa dia anak yang berkecukupan, atau bahkan kelebihan harta. Ingatlah teman, semua itu akan sirna seiring berjalannya waktu. Ingatlah teman, aku dan kalian memiliki ‘borok’yang hanya Allah saja yang tahu. Ingatlah selalu teman, aku dan kamu di ciptakan seideal mungkin, seimbang antara kelebihan dan kekurangan.
Terkadang aku berfikir, jangan-jangan apa yang aku anggap dalam diriku ini suatu kelebihan, ternyata itu adalah kelemahan besar di mata Allah. Pernahkah kalian fikirkan itu?.Namun sekarang, yang aku fikirkan adalah jangan pernah merasa malu dengan kekurangan yang kita punya, sekali lagi jadilah seperti Edelweiss, dia menjadikan kelebihannya untuk menjadi sebuah pemandangan yang indah di BC, sebuah pemandangan yang bisa membuat para pendaki yang sudah 3-4jam berjalan, kembali sejuk hatinya, dan tersenyum kembali wajahnya.
Jadikan kelebihan kita untuk membuat orang lain tersenyum, bukan membuat orang lain merasa sakit hati, atau kecewa.
Ketika kita berada di atas roda kehidupan,, ingatlah Edelweiss, dia akan gugur setelah berkembangnya, dia pernah berada di atas, dan juga pernah berada di bawah. ingatlah, tak selamanya kita berada di atas, karena pasti kita akan mengalami berada di bawah. Tak selamanya kita menang. Pasti ada kalanya kita mengalami keterpurukan. ketika kita berada dalam keterpurukan,ingat kalimat ini, takkan pernah ada kebangkitan, kalau tidak ada keterpurukan.
Wallahu’alam…
Sumber : Edelweis
Edelweis, sebuah bunga yang di sebut-sebut sebagai bunga abadi, ternyata Allah meyimpan banyak hikmah untuk manusia di dalamnya. Bunga ini, pertama kali ku lihat, tumbuh di Bukit Cadas, di alun-alun yang berada beberapa ratus meter sebelum puncak Gunung Talang.
Edelweiss, putih kecil, tak terlalu harum, namun tak mengurangi kecantikannya. Setiap bunganya yang gugur dan jatuh menyentuh tanah, dengan izin Allah, bunga tersebut akan tumbuh kembali menjadi satu pohon Edelweiss yang baru. Keunikannya ini yang menjadikannya mendapat julukan ‘The Immortal Flower’ atau ‘Bunga Abadi’.
Bunga ini mampu hidup dengan suhu yang menurutku di ‘Bukit Cadas’ itu di bawah 17 derajat celcius. Dengan suhu serendah itu, banyak pendaki yang berada di BC menggigil tak karuan, berusaha mencari tempat paling hangat untuk beristirahat, atau bahkan, secara tidak sengaja mengutuk Tuhan-nya dengan mengatakan “sialan! Dingin banget si di sini!!”. Namun tidak si kecil Edelweiss, tetap mentaati ketetapan Tuhan-nya, dan mensyukuri nikmat Tuhan-nya di tempat ia tumbuh.
Dia tetap tumbuh dengan terus menebar keindahan tak peduli apapun keadaan di sekitarnya, dinginkah, panaskah, dia tetap memiliki keyakinan kepada Allah, bahwa keadaan di sekitarnya itu tak menjadikan dirinya takluk, karena dia memiliki sandaran yang kuat, dia memiliki Tuhan yang Maha Besar, Allah Swt Seperti itulah seharusnya manusia! Menjadi manusia yang selalu yakin akan Allah, Tuhan-nya.
Edelweiss mengajarkan kita untuk senantiasa bangkit dari keterpurukan. Gugurnya sehelai Edelweiss, mampu menghasilkan puluhan bunga yang sama atau bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya. Begitulah seharusnya kita manusia dalam menghadapi keterpurukan di dalam hidup kita.
Berapa kalipun kita gagal, jangan pernah anggap itu sebagai kegagalan, jadikan itu sebuah penemuan, penemuan ‘cara yang salah’. Karena seorang penemu tak pernah langsung berhasil dalam percobaannya, mereka juga pernah gagal, tapi mereka menganggap kegagalan mereka adalah penemuan ‘cara yang salah’, bukan penemuan ‘kegagalan’. Dan kita harus meyakini, bahwa kita akan dan pasti, menemukan suatu ‘cara yang benar’ untuk menghadapi permasalahan yang Allah ujikan.
kita sering berada di bawah roda kehidupan, ketika kondisi kita seperti itu, sungguh indah jika kita menjadi seperti Edelweiss yang gugur, dia bisa tumbuh kembali menjadi bunga, mengapa kita manusia yang ‘gugur’ dalam ujian-Nya, tak mampu bangkit kembali menjadi manusia yang memiliki ‘bunga’ yang indah?
Seandainya kita memiliki kelebihan yang Allah berikan, maka yakinlah, ada kekurangan dalam diri kita. Jangan pernah sombongkan kelebihan itu di hadapan orang lain. Jadilah seperti Edelweiss, dia memiliki keindahan dengan keabadiannya, namun dia memiliki kekurangan, yaitu harumnya tak semerbak seperti bunga yang lainnya. Bunga se-indah Edelweiss pun memiliki kekurangan, maka, manusia se-‘indah’ apapun, pasti memiliki kekurangan, karena itu, jangan pernah sombong dengan apa yang kita miliki saat ini.
Banyak anak yang tamak dengan ilmu yang dia miliki, sampai-sampai tanpa sadar menyakiti perasaan temannya dengan kesombongan yang dia lakuan, entah sengaja atau tidak. Banyak juga anak muda, yang sombong dengan hartanya, di pamerkan ke segala penjuru, agar teman-temannya mengetahui bahwa dia anak yang berkecukupan, atau bahkan kelebihan harta. Ingatlah teman, semua itu akan sirna seiring berjalannya waktu. Ingatlah teman, aku dan kalian memiliki ‘borok’yang hanya Allah saja yang tahu. Ingatlah selalu teman, aku dan kamu di ciptakan seideal mungkin, seimbang antara kelebihan dan kekurangan.
Terkadang aku berfikir, jangan-jangan apa yang aku anggap dalam diriku ini suatu kelebihan, ternyata itu adalah kelemahan besar di mata Allah. Pernahkah kalian fikirkan itu?.Namun sekarang, yang aku fikirkan adalah jangan pernah merasa malu dengan kekurangan yang kita punya, sekali lagi jadilah seperti Edelweiss, dia menjadikan kelebihannya untuk menjadi sebuah pemandangan yang indah di BC, sebuah pemandangan yang bisa membuat para pendaki yang sudah 3-4jam berjalan, kembali sejuk hatinya, dan tersenyum kembali wajahnya.
Jadikan kelebihan kita untuk membuat orang lain tersenyum, bukan membuat orang lain merasa sakit hati, atau kecewa.
Ketika kita berada di atas roda kehidupan,, ingatlah Edelweiss, dia akan gugur setelah berkembangnya, dia pernah berada di atas, dan juga pernah berada di bawah. ingatlah, tak selamanya kita berada di atas, karena pasti kita akan mengalami berada di bawah. Tak selamanya kita menang. Pasti ada kalanya kita mengalami keterpurukan. ketika kita berada dalam keterpurukan,ingat kalimat ini, takkan pernah ada kebangkitan, kalau tidak ada keterpurukan.
Wallahu’alam…
Sumber : Edelweis
Senin, 23 Mei 2011
Si Penemu Angka Nol..
Dunia Eropa / Barat dari dulu sampai dengan sekarang sepertinya mengklaim bahwa Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Eropa / Barat tapi tahukah anda, sejatinya asal Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Timur Tengah yaitu Mesopotamia yang menjadi peradaban tertua di dunia.
Masyarakat dunia sangat mengenal Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar. Namun, dibalik kedigdayaan Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar ternyata hasil pemikirannya sangat dipengaruhi oleh ilmuwan Muslim bernama Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. Dia adalah seorang tokoh yang dilahirkan di Khiva (Iraq) pada tahun 780. Selama ini banyak kaum terpelajar lebih mengenal para ahli matematika Eropa / Barat padahal sejatinya banyak ilmuwan Muslim yang menjadi rujukan para ahli matematika dari barat
Selain ahli dalam matematika al-Khawarizmi, yang kemudian menetap di Qutrubulli (sebalah barat Bagdad), juga seorang ahli geografi, sejarah dan juga seniman. Karya-karyanya dalam bidang matematika dimaktub dalam Kitabul Jama wat Tafriq dan Hisab al-Jabar wal Muqabla. Inilah yang menjadi rujukan para ilmuwan Eropa termasuk Leonardo Fibonacce serta Jacob Florence.
Muhammad bin Musa Al Khawarizmi inilah yang menemukan angka 0 (nol) yang hingga kini dipergunakan. Apa jadinya coba jika angka 0 (nol) tidak ditemukan coba? Selain itu, dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut melalui fungsi sinus dan tanget, persamaan linear dan kuadrat serta kalkulasi integrasi (kalkulus integral). Tabel ukur sudutnya (Tabel Sinus dan Tangent) adalah yang menjadi rujukan tabel ukur sudut saat ini.
al-Khawarizmi juga seorang ahli ilmu bumi. Karyanya Kitab Surat Al Ard menggambarkan secara detail bagian-bagian bumi. CA Nallino, penterjemah karya al-Khawarizmi ke dalam bahasa Latin, menegaskan bahwa tak ada seorang Eropa pun yang dapat menghasilkan karya seperti al-Khawarizmi ini..."
Sumber :Google.com
So, Jangan Bangga dengan Penemu2 Barat, tapi Banggalah pada Islam itu sendiri karena Orang tercerdas dunia adalah Orang Islam. Semua penemuan yang dilakukan orang barat pada Umumnya merujuk Pada Penemuan Orang yang Islam yang mereka pelajari dari Al-qur'an dan Sunnah, namun Media informasi dan pendidikan jarang sekali membahas tentang mereka...Semoga bermanfaat.."
I Proud Be a Moslem..***
Masyarakat dunia sangat mengenal Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar. Namun, dibalik kedigdayaan Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar ternyata hasil pemikirannya sangat dipengaruhi oleh ilmuwan Muslim bernama Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. Dia adalah seorang tokoh yang dilahirkan di Khiva (Iraq) pada tahun 780. Selama ini banyak kaum terpelajar lebih mengenal para ahli matematika Eropa / Barat padahal sejatinya banyak ilmuwan Muslim yang menjadi rujukan para ahli matematika dari barat
Selain ahli dalam matematika al-Khawarizmi, yang kemudian menetap di Qutrubulli (sebalah barat Bagdad), juga seorang ahli geografi, sejarah dan juga seniman. Karya-karyanya dalam bidang matematika dimaktub dalam Kitabul Jama wat Tafriq dan Hisab al-Jabar wal Muqabla. Inilah yang menjadi rujukan para ilmuwan Eropa termasuk Leonardo Fibonacce serta Jacob Florence.
Muhammad bin Musa Al Khawarizmi inilah yang menemukan angka 0 (nol) yang hingga kini dipergunakan. Apa jadinya coba jika angka 0 (nol) tidak ditemukan coba? Selain itu, dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut melalui fungsi sinus dan tanget, persamaan linear dan kuadrat serta kalkulasi integrasi (kalkulus integral). Tabel ukur sudutnya (Tabel Sinus dan Tangent) adalah yang menjadi rujukan tabel ukur sudut saat ini.
al-Khawarizmi juga seorang ahli ilmu bumi. Karyanya Kitab Surat Al Ard menggambarkan secara detail bagian-bagian bumi. CA Nallino, penterjemah karya al-Khawarizmi ke dalam bahasa Latin, menegaskan bahwa tak ada seorang Eropa pun yang dapat menghasilkan karya seperti al-Khawarizmi ini..."
Sumber :Google.com
So, Jangan Bangga dengan Penemu2 Barat, tapi Banggalah pada Islam itu sendiri karena Orang tercerdas dunia adalah Orang Islam. Semua penemuan yang dilakukan orang barat pada Umumnya merujuk Pada Penemuan Orang yang Islam yang mereka pelajari dari Al-qur'an dan Sunnah, namun Media informasi dan pendidikan jarang sekali membahas tentang mereka...Semoga bermanfaat.."
I Proud Be a Moslem..***
Rahasia dibalik Air Mata , Air Telinga , Dan Air Liur
Mengapa Air Mata Asin, Air Telinga Pahit, Dan Air Liur Tawar
Tidak banyak yang tahu atau menyadari keajaiban dari apa yang kita miliki: air mata, air telinga, dan air liur. Fakta ilmiah ini terkadang disepelekan, padahal ketiganya memiliki fungsi berlainan yang memang diciptakan demikian oleh sang Pencipta sehingga kita dapat hidup dengan sangat baik.
Air Mata Berasa Asin
Air mata berasa asin karena memang kandungannya yang meliputi leusinenkefalin, adrenokortikotropik, dan prolaktin serta beberapa elektrolit, protein pengikat lemak dan Imunoglobulin A yang keseluruhannya menghasilkan rasa asin.
Dimana fungsi utama dari keseluruhannya ialah menjaga kondisi mata agar tetap stabil. Protein pengikat lemak itu sendiri membuat lapisan terluar yang terdiri dari lapisan lemak yang fungsinya melindungi kelembaban mata tetap utuh.
Air Telinga Berasa Pahit
Air telinga kita pahit, sebenarnya merupakan hasil sekresi dari kelenjar-kelenjar di dalam telinga yang bersifat basa dan lengket. Sekresi ini memungkinkan telinga yang mana lubangnya terbuka dan tanpa penutup itu bilamana termasuki oleh serangga ataupun makhluk kecil lain menjadikan mereka tidak tahan berlama-lama di dalamnya dan segera keluar dari telinga.
Cairan yang cenderung lengket menjadikan benda-benda kecil yang masuk cenderung terperangkap dan dapat dikeluarkan sebagai kotoran telinga.
Air Liur Berasa Tawar
Air liur kita memang berasa tawar. Ini dikarenakan memang fungsi daripadanya yang berhubungan dengan rasa dari makanan yang kita makan. Dapatkah Anda bayangkan jika air liur kita berubah rasa? Sangat-sangat tidak mengenakkan sekali pasti di kala menyantap makanan.
Ini pun pasti Anda rasakan ketika Anda sakit. Minum air tawar pun berasa pahit. Sangat tidak nyaman. Air liur mengandung enzim dan beberapa protein dan zat antibakteri.
Pada waktu Anda sakit, kandungan dari air liur berubah sedemikian rupa sehingga komposisi daripadanya cenderung menghasilkan cairan yang agak basa. Inilah mengapa Anda merasakan rasa pahit saat sakit dan sangat tidak nyaman di kala menyantap makanan..."
فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kamu Dustakan?" (QS. Ar-Rahaman)
Subahanallah...***
Sumber : Google.com
Tidak banyak yang tahu atau menyadari keajaiban dari apa yang kita miliki: air mata, air telinga, dan air liur. Fakta ilmiah ini terkadang disepelekan, padahal ketiganya memiliki fungsi berlainan yang memang diciptakan demikian oleh sang Pencipta sehingga kita dapat hidup dengan sangat baik.
Air Mata Berasa Asin
Air mata berasa asin karena memang kandungannya yang meliputi leusinenkefalin, adrenokortikotropik, dan prolaktin serta beberapa elektrolit, protein pengikat lemak dan Imunoglobulin A yang keseluruhannya menghasilkan rasa asin.
Dimana fungsi utama dari keseluruhannya ialah menjaga kondisi mata agar tetap stabil. Protein pengikat lemak itu sendiri membuat lapisan terluar yang terdiri dari lapisan lemak yang fungsinya melindungi kelembaban mata tetap utuh.
Air Telinga Berasa Pahit
Air telinga kita pahit, sebenarnya merupakan hasil sekresi dari kelenjar-kelenjar di dalam telinga yang bersifat basa dan lengket. Sekresi ini memungkinkan telinga yang mana lubangnya terbuka dan tanpa penutup itu bilamana termasuki oleh serangga ataupun makhluk kecil lain menjadikan mereka tidak tahan berlama-lama di dalamnya dan segera keluar dari telinga.
Cairan yang cenderung lengket menjadikan benda-benda kecil yang masuk cenderung terperangkap dan dapat dikeluarkan sebagai kotoran telinga.
Air Liur Berasa Tawar
Air liur kita memang berasa tawar. Ini dikarenakan memang fungsi daripadanya yang berhubungan dengan rasa dari makanan yang kita makan. Dapatkah Anda bayangkan jika air liur kita berubah rasa? Sangat-sangat tidak mengenakkan sekali pasti di kala menyantap makanan.
Ini pun pasti Anda rasakan ketika Anda sakit. Minum air tawar pun berasa pahit. Sangat tidak nyaman. Air liur mengandung enzim dan beberapa protein dan zat antibakteri.
Pada waktu Anda sakit, kandungan dari air liur berubah sedemikian rupa sehingga komposisi daripadanya cenderung menghasilkan cairan yang agak basa. Inilah mengapa Anda merasakan rasa pahit saat sakit dan sangat tidak nyaman di kala menyantap makanan..."
فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kamu Dustakan?" (QS. Ar-Rahaman)
Subahanallah...***
Sumber : Google.com
Minggu, 15 Mei 2011
Bijaknya Persahabatan...~-~
Kata bijak persahabatan adalah kata-kata yang kita sampaikan dalam sebuah ikatan persahabatan sehingga kita dapat menjaga dan terjaga dari pola hidup negative. Persahabatan adalah satu bentuk interaksi personal yang terjalin sebagai perwujudan eksistensi diri.
Dengan mengembangkan interaksi personal ini, maka kehidupan kita menjadi lebih baik dan terkontrol. Artinya, dengan adanya seorang sahabat, maka segala tingkah laku dan tutur kata kita dapat kita diatur.
Seperti kita ketahui, jika kita sudah bersosialisasi dengan orang lain, terkadang kita lepas kendali dalam sikap dan tutur kata. Tetapi, jika kita mempunyai sahabat, maka hal tersebut dapat kita kendalikan. Setidaknya kata bijak persahabatan merupakan satu kode etik yang diberlakukan sebagai acuan berinteraksi antar personal ataupun kelompok.
Bentuk kepedulian sahabat
Sudah lazimnya ketika seorang sahabat menyampaikan kata bijak persahabatan. Ini sangat penting mengingat setiap sahabat menginginkan hal terbaik bagi sahabatnya. Mereka tidak ingin sesuatu terjadi pada sahabatnya.
Sahabat yang baik dan bijak adalah sahabat yang memahami kondisi sahabatnya. Mereka segera tanggap atas kondisi yang dialami sahabatnya. Tanpa diminta, maka mereka datang ke sahabat untuk memberikan dukungan positif, agar sang sahabat menghadapi hidup dengan sebaik-baiknya.
Begitu pentingnya arti seorang sahabat, maka tidak jarang seseorang rela melakukan apapun untuk sahabatnya. Mereka tidak perduli apapun yang terjadi sebab hal penting bagi mereka adalah tidak ingin sahabatnya mengalami kecelakaan atau hal negatif lainnya.
Sahabat itu bagaikan pakaian kita. Jika sahabat kita mengalami penderitaan, maka kita juga merasakan betapa penderitaan itu sangat menyakitkan. Oleh karena itulah, dengan kata bijak persahabatan, maka terjalin keeratan yang semakin kuat dan kesadaran bahwa mereka masih mempunyai seseorang yang berarti dalam hidupnya.
Inilah bentuk kepedulian seorang sahabat kepada sahabatnya. Mereka tidak rela sesuatu terjadi kepada sahabatnya, terutama hal-hal negatif. Bagi mereka kebahagiaan sahabat adalah yang paling utama. Pada saat kita melihat sahabat kita bahagia, maka kita juga ikut bahagia. Begitu juga ketika kita melihat sahabat kita berduka, maka kita juga ikut berduka.
Indahnya saling mengingatkan
Hidup ini bagaikan berjalan di hutan rimba. Kita tidak pernah tahu apa yang bakal kita hadapi di sepanjang perjalanan hidup kita. Ibaratnya, jika melangkah ke arah timur, kita belum tahu persis apa yang ada di daerah timur sana. Tapi,kita harus berjalan ke timur. Tidak bisa kita melawan arahnya. Melawan arah berarti kehancuran.
Dan, satu hal yang perlu kita pahami bahwa kita tidak pernah lepas dari kesalahan. Setiap saat, kita mempunyai kecenderungan untuk melakukan kesalahan. Kesalahan tersebut dapat karena kita lalai atau mungkin juga karena memang kita sengaja. Tetapi, keduanya memberikan konsekuensi yang sama terhadap kondisi kita.
Ketika kita melakukan kesalahan, baik sengaja ataupun tidak sengaja, maka seorang sahabat pasti memberikan pandangan dan ingatan atas apa yang kita lakukan. Mereka datang dengan senyum atau mungkin kemarahan kepada kita. Tetapi kemarahan itu adalah untuk kebaikan semua.
Sahabat selalu mengingatkan saat kita melakukan kesalahan, bahkan ketika ada indikasi melakukan kesalahan. Sungguh indah sebuah persahabatan yang selalu dihiasi oleh kata bijak persahabatan. Bersyukurlah kita yang mempunyai banyak sahabat yang siap memberikan saran dan teguran untuk kebaikan hidup kita.
Ikatlah persahabatan seluasnya
Bersahabatlah dengan semua orang! Dalam persahabatan itulah kita akan menemukan satu dan banyak kebaikan hidup. Kehidupan ini sangat luas dan interaksi kita dengan sesama sangatlah variatif. Karena itu kemungkinan friksi sangat besar.
Untuk mengurangi friksi yang memungkinkan terjadinya geseran atau benturan, maka dengan memperluas artinya memperbanyak sahabat merupakan langkah konkrit untuk mencegah geseran atau friksi sosial tersebut.
Dengan semakin banyak sahabat yang kita miliki, maka semakin banyak kata bijak persahabatan yang kita dapatkan. Dan semakin banyak kata bijak, berarti kehiduan kita semakin baik dan tertata.
Ada pepatah mengatakan bahwa lebih baik jadi peramah daripada pemarah. Itu artinya lebih baik banyak sahabat daripada musuh. Dengan semakin banyak sahabat, hidup kita semakin baik dan tidak mengalami kesulitan. Hidup yang nyaman adalah hidup yang dikeliling oleh banyak sahabat....">>>
"Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak bisa mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg menyia-nyiakan sahabat yg telah dicari"..(Saidina Ali).. >>
Dengan mengembangkan interaksi personal ini, maka kehidupan kita menjadi lebih baik dan terkontrol. Artinya, dengan adanya seorang sahabat, maka segala tingkah laku dan tutur kata kita dapat kita diatur.
Seperti kita ketahui, jika kita sudah bersosialisasi dengan orang lain, terkadang kita lepas kendali dalam sikap dan tutur kata. Tetapi, jika kita mempunyai sahabat, maka hal tersebut dapat kita kendalikan. Setidaknya kata bijak persahabatan merupakan satu kode etik yang diberlakukan sebagai acuan berinteraksi antar personal ataupun kelompok.
Bentuk kepedulian sahabat
Sudah lazimnya ketika seorang sahabat menyampaikan kata bijak persahabatan. Ini sangat penting mengingat setiap sahabat menginginkan hal terbaik bagi sahabatnya. Mereka tidak ingin sesuatu terjadi pada sahabatnya.
Sahabat yang baik dan bijak adalah sahabat yang memahami kondisi sahabatnya. Mereka segera tanggap atas kondisi yang dialami sahabatnya. Tanpa diminta, maka mereka datang ke sahabat untuk memberikan dukungan positif, agar sang sahabat menghadapi hidup dengan sebaik-baiknya.
Begitu pentingnya arti seorang sahabat, maka tidak jarang seseorang rela melakukan apapun untuk sahabatnya. Mereka tidak perduli apapun yang terjadi sebab hal penting bagi mereka adalah tidak ingin sahabatnya mengalami kecelakaan atau hal negatif lainnya.
Sahabat itu bagaikan pakaian kita. Jika sahabat kita mengalami penderitaan, maka kita juga merasakan betapa penderitaan itu sangat menyakitkan. Oleh karena itulah, dengan kata bijak persahabatan, maka terjalin keeratan yang semakin kuat dan kesadaran bahwa mereka masih mempunyai seseorang yang berarti dalam hidupnya.
Inilah bentuk kepedulian seorang sahabat kepada sahabatnya. Mereka tidak rela sesuatu terjadi kepada sahabatnya, terutama hal-hal negatif. Bagi mereka kebahagiaan sahabat adalah yang paling utama. Pada saat kita melihat sahabat kita bahagia, maka kita juga ikut bahagia. Begitu juga ketika kita melihat sahabat kita berduka, maka kita juga ikut berduka.
Indahnya saling mengingatkan
Hidup ini bagaikan berjalan di hutan rimba. Kita tidak pernah tahu apa yang bakal kita hadapi di sepanjang perjalanan hidup kita. Ibaratnya, jika melangkah ke arah timur, kita belum tahu persis apa yang ada di daerah timur sana. Tapi,kita harus berjalan ke timur. Tidak bisa kita melawan arahnya. Melawan arah berarti kehancuran.
Dan, satu hal yang perlu kita pahami bahwa kita tidak pernah lepas dari kesalahan. Setiap saat, kita mempunyai kecenderungan untuk melakukan kesalahan. Kesalahan tersebut dapat karena kita lalai atau mungkin juga karena memang kita sengaja. Tetapi, keduanya memberikan konsekuensi yang sama terhadap kondisi kita.
Ketika kita melakukan kesalahan, baik sengaja ataupun tidak sengaja, maka seorang sahabat pasti memberikan pandangan dan ingatan atas apa yang kita lakukan. Mereka datang dengan senyum atau mungkin kemarahan kepada kita. Tetapi kemarahan itu adalah untuk kebaikan semua.
Sahabat selalu mengingatkan saat kita melakukan kesalahan, bahkan ketika ada indikasi melakukan kesalahan. Sungguh indah sebuah persahabatan yang selalu dihiasi oleh kata bijak persahabatan. Bersyukurlah kita yang mempunyai banyak sahabat yang siap memberikan saran dan teguran untuk kebaikan hidup kita.
Ikatlah persahabatan seluasnya
Bersahabatlah dengan semua orang! Dalam persahabatan itulah kita akan menemukan satu dan banyak kebaikan hidup. Kehidupan ini sangat luas dan interaksi kita dengan sesama sangatlah variatif. Karena itu kemungkinan friksi sangat besar.
Untuk mengurangi friksi yang memungkinkan terjadinya geseran atau benturan, maka dengan memperluas artinya memperbanyak sahabat merupakan langkah konkrit untuk mencegah geseran atau friksi sosial tersebut.
Dengan semakin banyak sahabat yang kita miliki, maka semakin banyak kata bijak persahabatan yang kita dapatkan. Dan semakin banyak kata bijak, berarti kehiduan kita semakin baik dan tertata.
Ada pepatah mengatakan bahwa lebih baik jadi peramah daripada pemarah. Itu artinya lebih baik banyak sahabat daripada musuh. Dengan semakin banyak sahabat, hidup kita semakin baik dan tidak mengalami kesulitan. Hidup yang nyaman adalah hidup yang dikeliling oleh banyak sahabat....">>>
"Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak bisa mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg menyia-nyiakan sahabat yg telah dicari"..(Saidina Ali).. >>
Jumat, 29 April 2011
Kegagalan bukan Akhir tapi Awal, Nikmati aja...***
Setiap orang pasti pernah mengalami sebuah kegagalan dalam hidupnya.. entah kegagalan dalam hubungan, kegagalan dalam usaha, kegagalan dalam studi, atau berbagai macam kegagalan yang ada didunia ini…..
Karena Alloh maha mengetahui yang terbaik bagi hambanya… ketika Alloh mentakdirkan sebuah kegagalan bagi hambanya pasti ada sebuah alasan disana. Selalu ada hikmah indah dari setiap kegagalan karena Alloh menciptakan segala sesuatunya tidak pernah sia-sia. Tinggal bagaimana kita menyingkapi arti dari sebuah kegagalan yang kita hadapi.
Namun apakah semua kegagalan itu buruk? Tentu tidak!!, saya senang sekali menikmati kegagalan..! Dari sebuah kegagalan kita bisa belajar. Dari kegagalan kita bisa mencari hikmah positifnya. Dari kegagalan kita bisa memperbaiki segala kekurangan kita. Dari kegagalan kita bisa menjadi lebih baik. Dan jika dimaknai secara positif, kegagalan itu ternyata sangat indah.
Seringnya kegagalan itu menghampiri kita maka akan ada kesuksesan didepan mata yang akan diraih, bener juga pepatah tersebut kalau tidak merasakan gagal bisa jadi hidup akan menonton saja dan tidak ada variasi menarik karena hidup selalu diwarnai dengan berbagai macam peristiwa dari yang kita inginkan sampai yang kita tidak menginginkannya karena itulah kehidupan yang diberikan oleh yang maha kuasa terhadap hambaNYa.
Kegagalan itu indah. Kegagalan itu tantangan yang mesti ditaklukkan, bukan sekadar ditangisi. Tanpa kegagalan dan kesalahan kita tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang benar dan berhasil. Selain itu jika kita juga tidak pernah belajar untuk lebih dalam suatu hal. Banyak yang bisa kita lakukan setelah kegagalan. Mata kita jadi terbuka akan berbagai hal. Kita jadi lebih sungguh-sungguh. Kita jadi tidak mudah lengah, kita semakin bisa menghargai sebuah keberhasilan dan sederet pengalaman yang kita dapatkan.
Ketika sebuah kegagalan menghampiri berusaha harus segera anda benahi, yaitu cara berpikir anda tentang kegagalan. Anda jangan segera menenggelamkan diri dalam keputusasaan, sementara peluang untuk bangkit masih terbentang luas di depan anda! Ingatlah, kegagalan bukan saja milik anda, tapi setiap orang.
Karena kegagalan hari ini bukanlah berarti sebuah kegagalan selamanya… tapi memang kegagalan itu terasa pahit tapi nikmatnya sebuah rasa manis akan tebih terasa ketika kita pernah merasakan pahit. Ada sebuah proses disana ketika ingin bangkit dari sebuah kegagalan.. n pastinya butuh waktu untuk menyembuhkan luka dari sebuah kegagalan itu.ada sebuah persiapan yang lebih baik sebelum melangkah lagi memulai kembali apa yg telah gagal.
Kadangkala semakin kita bersyukur atas nikmat yang diberikan maka semakin banyak ujian yang akan datang kepada kita karena ALLAH SWT akan selalu menguji iman seorang HambaNya tanpa melebihi kesabaran yang kita punya, semakin kita sanggup menghadapinya maka semakin banyak terpaan yang datang, bagaimanapun itu keadaanya harus lah kita terima dengan lapang dada dan ikhlas.
Hidupkan hati dengan memperbanyak ilmu, memperbanyak ibadah, dan zikir. Ladang untuk berkarya teramat luas, hiduplah dengan menjaga kebersihan hati, insya Allah hidup ini menjadi lebih indah dan penuh makna
Nikmatilah kegagalan yang menghampirimu seperti sebuah pegas,, semakin kita ditekan semakin keras pula usaha kita untuk membuktikan diri bahwa kita mampu dan bisa.....dan jangan lupa mulai walaupun hanya sedikit dan sebaris untuk menulis.....
Berusahalah dengan keras. Jangan lupa untuk bercita-cita dan bermimpi, lukislah harapanmu disetiap detak jantungmu, alirkan semangatmu disetiap tetes darahmu, gantungkan mimpimu setinggi mungkin. Takut kecewa? Takut mimpimu tak terwujud? Ehm. . .kenapa harus kecewa? Bermimpi itu gratis, bercita-cita itu tak ada yang melarang. Tapi bagaimana jika gagal? Jawabannya gampang, gagal yo cari jalan lain tuk berhasil. Why not?
Selain usaha yang nampak, usaha yang tak Nampak secara kasat mata yakni doa juga perlu karena doa memiliki kekuatan yang luar biasa bahkan bisa mengalirkan keyakinan yang bisa membawa kita pada tujuan yang kita impikan. Kekuatan spiritual sangat besar loh. Keep low profile ya!!! N selalu belajar pada sebuah universitas kehidupan. Jangan takut untuk mengakui kehebatan orang lain, belajarlah dari keberhasilannya, berhenti menyalahkan orang lain atau bahkan menyalahkan diri sendiri karena itu hanya buang-buang waktu, berpikir positif kawan, maka hal yang positif juga akan terjadi padamu.
Ketika anda gagal, Maka, jangan berkecil hati, janganlah merasa rendah diri, apalagi merasa rugi. Jadikan ungkapan terindah firman Allah, Innallaha ma’ashshabirin, “sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar,” menjadi tongkat penyemangat yang akan memberikan kekuatan anda untuk berdiri dan bangkit lagi meniti usaha serta memperbaiki kesalahan dan menyempurnakan yang ada.
Sekali lagi, nikmatilah kegagalan dan belajarlah darinya, sebagaimana anda menikmati kesuksesan dan belajar terus untuk mengembangkan sayap kesuksesan anda.
Kegagalan akan dirasa indah, jika kita melewatinya dengan keyakinan bahwa akan muncul sebuah kesuksesan setelahnya.
Kegagalan itu indah, asalkan kita menganggapnya sebagai tahap ujian yang akan melejitkan potensi dan keterampilan kita dalam menghadapi serta mengelola masalah dengan baik. Kegagalan akan ikut mendewasakan cara pandang, sikap, bahkan cita-cita kita dalam mengarungi gelombang hidup yang tak selamanya tenang dan mulus.
Nah, sudahkah anda menghasilkan suatu yang berharga untuk memperindah sejarah hidup anda ketika gagal?
Jadikanlah kegagalan sebagai saat yang indah, ya setidaknya hal itulah yang membuat kita dapat berpikir dewasa.
Karena Alloh maha mengetahui yang terbaik bagi hambanya… ketika Alloh mentakdirkan sebuah kegagalan bagi hambanya pasti ada sebuah alasan disana. Selalu ada hikmah indah dari setiap kegagalan karena Alloh menciptakan segala sesuatunya tidak pernah sia-sia. Tinggal bagaimana kita menyingkapi arti dari sebuah kegagalan yang kita hadapi.
Namun apakah semua kegagalan itu buruk? Tentu tidak!!, saya senang sekali menikmati kegagalan..! Dari sebuah kegagalan kita bisa belajar. Dari kegagalan kita bisa mencari hikmah positifnya. Dari kegagalan kita bisa memperbaiki segala kekurangan kita. Dari kegagalan kita bisa menjadi lebih baik. Dan jika dimaknai secara positif, kegagalan itu ternyata sangat indah.
Seringnya kegagalan itu menghampiri kita maka akan ada kesuksesan didepan mata yang akan diraih, bener juga pepatah tersebut kalau tidak merasakan gagal bisa jadi hidup akan menonton saja dan tidak ada variasi menarik karena hidup selalu diwarnai dengan berbagai macam peristiwa dari yang kita inginkan sampai yang kita tidak menginginkannya karena itulah kehidupan yang diberikan oleh yang maha kuasa terhadap hambaNYa.
Kegagalan itu indah. Kegagalan itu tantangan yang mesti ditaklukkan, bukan sekadar ditangisi. Tanpa kegagalan dan kesalahan kita tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang benar dan berhasil. Selain itu jika kita juga tidak pernah belajar untuk lebih dalam suatu hal. Banyak yang bisa kita lakukan setelah kegagalan. Mata kita jadi terbuka akan berbagai hal. Kita jadi lebih sungguh-sungguh. Kita jadi tidak mudah lengah, kita semakin bisa menghargai sebuah keberhasilan dan sederet pengalaman yang kita dapatkan.
Ketika sebuah kegagalan menghampiri berusaha harus segera anda benahi, yaitu cara berpikir anda tentang kegagalan. Anda jangan segera menenggelamkan diri dalam keputusasaan, sementara peluang untuk bangkit masih terbentang luas di depan anda! Ingatlah, kegagalan bukan saja milik anda, tapi setiap orang.
Karena kegagalan hari ini bukanlah berarti sebuah kegagalan selamanya… tapi memang kegagalan itu terasa pahit tapi nikmatnya sebuah rasa manis akan tebih terasa ketika kita pernah merasakan pahit. Ada sebuah proses disana ketika ingin bangkit dari sebuah kegagalan.. n pastinya butuh waktu untuk menyembuhkan luka dari sebuah kegagalan itu.ada sebuah persiapan yang lebih baik sebelum melangkah lagi memulai kembali apa yg telah gagal.
Kadangkala semakin kita bersyukur atas nikmat yang diberikan maka semakin banyak ujian yang akan datang kepada kita karena ALLAH SWT akan selalu menguji iman seorang HambaNya tanpa melebihi kesabaran yang kita punya, semakin kita sanggup menghadapinya maka semakin banyak terpaan yang datang, bagaimanapun itu keadaanya harus lah kita terima dengan lapang dada dan ikhlas.
Hidupkan hati dengan memperbanyak ilmu, memperbanyak ibadah, dan zikir. Ladang untuk berkarya teramat luas, hiduplah dengan menjaga kebersihan hati, insya Allah hidup ini menjadi lebih indah dan penuh makna
Nikmatilah kegagalan yang menghampirimu seperti sebuah pegas,, semakin kita ditekan semakin keras pula usaha kita untuk membuktikan diri bahwa kita mampu dan bisa.....dan jangan lupa mulai walaupun hanya sedikit dan sebaris untuk menulis.....
Berusahalah dengan keras. Jangan lupa untuk bercita-cita dan bermimpi, lukislah harapanmu disetiap detak jantungmu, alirkan semangatmu disetiap tetes darahmu, gantungkan mimpimu setinggi mungkin. Takut kecewa? Takut mimpimu tak terwujud? Ehm. . .kenapa harus kecewa? Bermimpi itu gratis, bercita-cita itu tak ada yang melarang. Tapi bagaimana jika gagal? Jawabannya gampang, gagal yo cari jalan lain tuk berhasil. Why not?
Selain usaha yang nampak, usaha yang tak Nampak secara kasat mata yakni doa juga perlu karena doa memiliki kekuatan yang luar biasa bahkan bisa mengalirkan keyakinan yang bisa membawa kita pada tujuan yang kita impikan. Kekuatan spiritual sangat besar loh. Keep low profile ya!!! N selalu belajar pada sebuah universitas kehidupan. Jangan takut untuk mengakui kehebatan orang lain, belajarlah dari keberhasilannya, berhenti menyalahkan orang lain atau bahkan menyalahkan diri sendiri karena itu hanya buang-buang waktu, berpikir positif kawan, maka hal yang positif juga akan terjadi padamu.
Ketika anda gagal, Maka, jangan berkecil hati, janganlah merasa rendah diri, apalagi merasa rugi. Jadikan ungkapan terindah firman Allah, Innallaha ma’ashshabirin, “sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar,” menjadi tongkat penyemangat yang akan memberikan kekuatan anda untuk berdiri dan bangkit lagi meniti usaha serta memperbaiki kesalahan dan menyempurnakan yang ada.
Sekali lagi, nikmatilah kegagalan dan belajarlah darinya, sebagaimana anda menikmati kesuksesan dan belajar terus untuk mengembangkan sayap kesuksesan anda.
Kegagalan akan dirasa indah, jika kita melewatinya dengan keyakinan bahwa akan muncul sebuah kesuksesan setelahnya.
Kegagalan itu indah, asalkan kita menganggapnya sebagai tahap ujian yang akan melejitkan potensi dan keterampilan kita dalam menghadapi serta mengelola masalah dengan baik. Kegagalan akan ikut mendewasakan cara pandang, sikap, bahkan cita-cita kita dalam mengarungi gelombang hidup yang tak selamanya tenang dan mulus.
Nah, sudahkah anda menghasilkan suatu yang berharga untuk memperindah sejarah hidup anda ketika gagal?
Jadikanlah kegagalan sebagai saat yang indah, ya setidaknya hal itulah yang membuat kita dapat berpikir dewasa.
Selasa, 26 April 2011
Untuk Para Pendaki, Pecinta Alam dan Petualang...***
SALAM RIMBA....>>>***
Untuk orang-orang yang menghargai hidup dengan bertualang mempertaruhkan hidup
Untuk orang-orang yang menghargai hidup dengan bertualang mempertaruhkan hidup
“Allah telah menjadikan bumi terhampar luas untukmu, agar kamu dengan bebas meniti jalan-jalan yang terbentang di bumi” (Al Quran Surat Nuh: 19-20)
“....
“Kamilah yang menghamparkan bumi, dan kami pula yang menegakkan gunung-gunung, serta menumbuhkan segalanya dengan imbang” (Al Quran Surat Al Hijr: 19)
“Allah menjadikan sebagian ciptaanNya sebagai tempat bernaung untukmu, dan menjadikan gunung-gunung sebagai tempat berlindung....” (Al Quran
“Dialah yang membentangkan bumi dan menciptakan gunung-gunung dan sungai-sungai disana. Dia menjadikan semua jenis buah-buahan, masing-masing berpasangan. Dia pulalah yang menutupkan malam pada siang. Sungguh, dalam semua itu terdapat ayat-ayat kebesaranNya bagi kaum yang mau berpikir” (Al Quran Surat ar Ra’ad: 3)
“Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi!”
(Petikan dari buku “La Tahzan” karya DR. Aidh Al-Qarni)
Di antara perkara yang dapat melapangkan dada dan meleyapkan awan kesedihan dan kesusahan adalah berjalan menjelajah negeri dan membaca “buku penciptaan” yang terbuka lebar ini untuk menyaksikan bagaimana pena-pena kekuasaan menuliskan tanda-tanda keindahan di atas lembaran-lembaran kehidupan. Betapa tidak, karena anda akan banyak menyaksikan taman, kebun, sawah dan bukit-bukit hijau yang indah mempesona.
Keluarlah dari rumah, lalu perhatikan apa yang ada di sekitar Anda, di depan mata anda, dan di belakang Anda! Dakilah gunung-gunung, jamalah tanah di lembah-lembah, panjatlah batang-batang pepohonan, reguklah air yang jernih, dan ciumkan hidungmu di atas bunga mawar! Pada saat-saat yang demikian itu, Anda akan menemukan jiwa Anda benar-benar merdeka dan bebas seperti burung yang berkicau melafalkan tasbih di angkasa kebahagiaan. Keluarlah dari rumah Anda, tutup kedua mata Anda dengan kain hitam, kemudian berjalanlah di bumi Allah yang sangat luas ini dengan senantiasa berdzikir dan bertasbih.
Marilah sekali-kali kita membaca Al-Qur’an di tepi-tepi sungai, di pinggiran hutan yang rimbun, di antara burung-burung yang sedang berkicau membaca untaian puisi cinta, atau di depan gemericik aliran air sungai yang sedang mengisahkan perjalanannya dari hulu ke hilir. Marilah sesekali kita berjalan menjelajah pelosok negeri untuk mencari ketenangan, bergembira, berpikir, dan sekaligus menghayati ciptaan Allah yang sangat luas ini.
(Dan, mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau”)
(Al Quran
Mendaki gunung pada awalnya merupakan sebuah kegiatan yang harus dilakukan oleh seseorang untuk sebuah keperluan tertentu, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Memasuki masa neo klasik, yakni pada masa penjajahan. Kegiatan mendaki gunung memiliki tujuan Tertentu. Seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda bernama Clignet (1838) diketahui sebagai orang pertama yang mendaki gunung Semeru (Jawa Timur) dengan tujuan untuk penelitian struktur tanah dan kemudian dilanjutkan oleh ahli botani Junhuhn (1945) yang mendaki gunung Semeru untuk meneliti jenis-jenis tumbuhan berdasarkan ketinggian.
Pada masa yang sama, bangsaIndonesia mendaki gunung untuk keperluan taktik perang. Panglima Jendral Sudirman dan para prajuritnya mendaki gunung dan perbukitan di daerah jawa tengah untuk menjalankan taktik perang gerilya melawan Belanda, demikian pula Pahlawan Supriadi memimpin pasukan gerilya dengan menjelajahi kawasan gunung kelud di sekitar daerah Blitar-jawa timur.
Konon bangsa Belanda juga turut mendaki gunung Argopuro untuk membuat landasan pesawat terbang di lereng gunung Argopuro guna mengangkut hasil pengalengan daging rusa (sekarang Cikasur). Dari sini kita bisa melihat tujuan dari mendaki gunung menjadi semakin beragam.
Memasuki masa neo klasik, yakni pada masa penjajahan. Kegiatan mendaki gunung memiliki tujuan Tertentu. Seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda bernama Clignet (1838) diketahui sebagai orang pertama yang mendaki gunung Semeru (Jawa Timur) dengan tujuan untuk penelitian struktur tanah dan kemudian dilanjutkan oleh ahli botani Junhuhn (1945) yang mendaki gunung Semeru untuk meneliti jenis-jenis tumbuhan berdasarkan ketinggian.
Pada masa yang sama, bangsa
Konon bangsa Belanda juga turut mendaki gunung Argopuro untuk membuat landasan pesawat terbang di lereng gunung Argopuro guna mengangkut hasil pengalengan daging rusa (sekarang Cikasur). Dari sini kita bisa melihat tujuan dari mendaki gunung menjadi semakin beragam.
Kemudian, kegiatan mendaki gunung sudah berubah menjadi kegiatan yang bertujuan untuk hobi atau kesenangan diri sendiri. Para pendaki gunung telah memiliki tujuan yang lebih beragam lagi, yakni ingin menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak-puncak gunung yang masih perawan. Mendaki gunung sudah berubah tujuannya, yakni untuk ‘kemasyuran’. Mengapa mereka gila akan puncak gunung?
Pada awalanya mencapai puncak gunung merupakan kepuasan pribadi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sama halnya dengan kenikmatan penulis ketika berhasil membius para pembacanya, atau kenikmatan seorang seniman ketika berhasil menyelesaikan karyanya dan kemudian diapresiasi oleh pengamat.
Jadi, sebenarnya para pendaki gunung itu seperti seorang pemimpi yang haus untuk menggapai mimpinya, sehingga saat mimpi-mimpinya terwujud ada rasa bahagia dan kepuasan yang begitu besar dan seolah tak dapat diungkapkan atau ditukar dengan apapun. Dapat juga dikatakan bahwa seorang pendaki sebenarnya hampir sama dengan para pejelajah atau para penemu seperti Colombus, Amerigo Vespuci atau Vasco da Gama yang berani menjelajah hanya sekedar untuk menjawab rasa ingin tahunya.
Para pendaki juga memiliki kesamaan sifat dan karakter dari seorang seniman seperti Leonardo Da Vinci, Van Gogh atau Affandi yang selalu melangkah dengan bebas, haus akan sesuatu yang baru, selalu berpikir dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh seorangpun sebelumnya, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, rendah hati, unik dan selalu berbeda. Sampai pada akhirnya, ketabahan dan keikhlasannya mampu mengantarkannya kepada keagungan yang membuatnya hidup abadi sebagai Pecinta Alam sejati.
Sir Hillary saat pertama kali menjejakkan kakinya di puncak tertinggi dunia, “Mount Everest ”. Tidak pernah menyatakan bahwa beliau-lah sang raja petualang atau akulah yang paling hebat. Ini terbukti dengan sulitnya mengungkap siapa orang pertama yang sampai di puncak tertinggi dunia itu, Sir Hillary atau Wim Poche (Porter) yang menemaninya? Kenyataannya mereka sepakat menyatakan bahwa mereka menjejakkan kaki di puncak secara bersamaan. Mengapa? Karena saat pertama kali berangkat, niatnya hanya satu, mendaki everest karena memang Ia harus mendaki demi memenuhi panggilan jiwa. Dan justru karena komitmen itulah yang menjadikannya dikenal dan hidup abadi.
Coba kita bandingkan saat ini. Betapa banyaknya pendaki yang melakukan ekspedisi mendaki gunung, baik secara solo atau tim hanya untuk menggapai puncak atau mengoleksi puncak-puncak gunung ternama demi mencari popularitas atau menambah image pribadi.
Kenyataannya, ekspedisi-ekspedisi tersebut hanya seperti kegiatan yang sepintas lalu saja, setelah ekspedisi selesai, tak pernah lagi dibicarakan oleh orang lain, dibahas untuk ilmu pengetahuan, apalagi untuk dikenang.
Meskipun akhirnya para pendaki yang “haus gengsi”ini harus bersikap “Vandalis” agar orang lain mengenalnya dengan cara mencoretkan namanya diantara batu-batu, pohon-pohon atau papan peringatan, tetapi ternyata sebenarnya justru mereka sedang merusak namanya sendiri.
Jadi, kegiatan mendaki gunung kini memiliki tujuan yang lebih beragam lagi, yakni prestise atau image. Dimana para pendaki berlomba untuk mencapai atau mengoleksi puncak gunung demi keperluan gengsi atau untuk mengangkat prestasi dan menjadi lebih dikenal. Para pendaki gunung segera mendapat dukungan dari negara untuk kepentingan propaganda politik, dan puncak everest adalah salah satu sasaran paling dibidik karena merupakan puncak tertinggi di muka bumi, dengan demikian apabila berhasil mengibarkan bendera di puncak tertinggi dunia, itu berarti “ Saya-lah yang tertinggi”. Bangsa Indonesiapun pernah melakukannya, yakni ketika pendaki terbaik kita melakukan ekspedisi “Seven Summit” yang berakhir dengan pendakian ke puncak Evereset (1997). NegaraIndonesia mendukung mereka guna meningkatkan martabat bangsa dengan mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi dunia yang juga berarti kami bangsa Indonesia juga bisa menjadi yang tertinggi.
Tujuan pendakian yang satu ini cukup cepat berkembang dan segera merasuki organisasi-organisasi Pecinta Alam, baik yang independen maupun yang berdiri dibawah naungan sebuah departemen, pendidikan misalnya.
Akhirnya dengan cepat menjamur kelompok Pecinta alam di Indonesia dan tak jarang yang program utamanya adalah menggapai puncak gunung sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan image atau prestise dengan mengajukan puluhan proposal agar setiap XPDC yang mereka lakukan mendapat dukungan dana dari sponsor. Banyak ekspedisi digelar, dan orang-orang beramai-ramai mendaki gunung. Gunung-gunungpun dijadikan obyek rekreasi tanpa adanya upaya pelestarian alam sehingga berdampak pada kotornya gunung dengan sampah-sampah.
Ada juga yang berlomba untuk membuka jalur pendakian sendiri tanpa tujuan dan manfaat yang jelas, hanya untuk mempercepat meningkatkan image kelompok organisasi yang pada akhirnya justru karena banyaknya jalur-jalur liar itu membuat banyak pendaki yang tersesat dan hilang, jalur-jalur liar itu juga menjadi akses mudah bagi para penebang dan pemburu liar untuk mengeksplorasi hutan, sehingga berdampak pada kerusakan hutan di gunung-gunung, lebih parahnya lagi negara tidak lagi peduli akan kelestarian hutan.
Hal itu menjadi sangat ironis sekali dengan nama mereka “PECINTA ALAM” yang notabene sebagai kaum yang mencintai alam tetapi pada kenyataannya tidak ada sama sekali kegiatan untuk melestarikan alam, yang nampak hanyalah sejumlah ekspedisi-ekspedisi sekedar mencapai puncak gunung saja bukan ekspedisi untuk keperluan penelitian, bersih-bersih gunung dari sampah atau ekspedisi penghijauan hutan dsb. Dan yang lebih menyedihkan lagi, banyak yang tidak mengetahui atau bahkan melupakan nilai-nilai berharga yang bisa diambil dari kegiatan mendaki gunung.
Untuk itu kita perlu mengkaji kembali tentang hakikat mendaki gunung yang selama ini telah diabaikan, mengapa kita mendaki gunung, untuk apa serta bagaimana mendaki gunung dan menjadi Pecinta Alam yang lebih baik ? Karena itu kita perlu kembali mempertanyakan tujuan kita mendaki gunung, salah satunya yakni dengan mempelajari filosofi mendaki gunung melalui
Pada awalanya mencapai puncak gunung merupakan kepuasan pribadi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sama halnya dengan kenikmatan penulis ketika berhasil membius para pembacanya, atau kenikmatan seorang seniman ketika berhasil menyelesaikan karyanya dan kemudian diapresiasi oleh pengamat.
Jadi, sebenarnya para pendaki gunung itu seperti seorang pemimpi yang haus untuk menggapai mimpinya, sehingga saat mimpi-mimpinya terwujud ada rasa bahagia dan kepuasan yang begitu besar dan seolah tak dapat diungkapkan atau ditukar dengan apapun. Dapat juga dikatakan bahwa seorang pendaki sebenarnya hampir sama dengan para pejelajah atau para penemu seperti Colombus, Amerigo Vespuci atau Vasco da Gama yang berani menjelajah hanya sekedar untuk menjawab rasa ingin tahunya.
Para pendaki juga memiliki kesamaan sifat dan karakter dari seorang seniman seperti Leonardo Da Vinci, Van Gogh atau Affandi yang selalu melangkah dengan bebas, haus akan sesuatu yang baru, selalu berpikir dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh seorangpun sebelumnya, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, rendah hati, unik dan selalu berbeda. Sampai pada akhirnya, ketabahan dan keikhlasannya mampu mengantarkannya kepada keagungan yang membuatnya hidup abadi sebagai Pecinta Alam sejati.
Sir Hillary saat pertama kali menjejakkan kakinya di puncak tertinggi dunia, “
Coba kita bandingkan saat ini. Betapa banyaknya pendaki yang melakukan ekspedisi mendaki gunung, baik secara solo atau tim hanya untuk menggapai puncak atau mengoleksi puncak-puncak gunung ternama demi mencari popularitas atau menambah image pribadi.
Kenyataannya, ekspedisi-ekspedisi tersebut hanya seperti kegiatan yang sepintas lalu saja, setelah ekspedisi selesai, tak pernah lagi dibicarakan oleh orang lain, dibahas untuk ilmu pengetahuan, apalagi untuk dikenang.
Meskipun akhirnya para pendaki yang “haus gengsi”ini harus bersikap “Vandalis” agar orang lain mengenalnya dengan cara mencoretkan namanya diantara batu-batu, pohon-pohon atau papan peringatan, tetapi ternyata sebenarnya justru mereka sedang merusak namanya sendiri.
Jadi, kegiatan mendaki gunung kini memiliki tujuan yang lebih beragam lagi, yakni prestise atau image. Dimana para pendaki berlomba untuk mencapai atau mengoleksi puncak gunung demi keperluan gengsi atau untuk mengangkat prestasi dan menjadi lebih dikenal. Para pendaki gunung segera mendapat dukungan dari negara untuk kepentingan propaganda politik, dan puncak everest adalah salah satu sasaran paling dibidik karena merupakan puncak tertinggi di muka bumi, dengan demikian apabila berhasil mengibarkan bendera di puncak tertinggi dunia, itu berarti “ Saya-lah yang tertinggi”. Bangsa Indonesiapun pernah melakukannya, yakni ketika pendaki terbaik kita melakukan ekspedisi “Seven Summit” yang berakhir dengan pendakian ke puncak Evereset (1997). Negara
Tujuan pendakian yang satu ini cukup cepat berkembang dan segera merasuki organisasi-organisasi Pecinta Alam, baik yang independen maupun yang berdiri dibawah naungan sebuah departemen, pendidikan misalnya.
Akhirnya dengan cepat menjamur kelompok Pecinta alam di Indonesia dan tak jarang yang program utamanya adalah menggapai puncak gunung sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan image atau prestise dengan mengajukan puluhan proposal agar setiap XPDC yang mereka lakukan mendapat dukungan dana dari sponsor. Banyak ekspedisi digelar, dan orang-orang beramai-ramai mendaki gunung. Gunung-gunungpun dijadikan obyek rekreasi tanpa adanya upaya pelestarian alam sehingga berdampak pada kotornya gunung dengan sampah-sampah.
Ada juga yang berlomba untuk membuka jalur pendakian sendiri tanpa tujuan dan manfaat yang jelas, hanya untuk mempercepat meningkatkan image kelompok organisasi yang pada akhirnya justru karena banyaknya jalur-jalur liar itu membuat banyak pendaki yang tersesat dan hilang, jalur-jalur liar itu juga menjadi akses mudah bagi para penebang dan pemburu liar untuk mengeksplorasi hutan, sehingga berdampak pada kerusakan hutan di gunung-gunung, lebih parahnya lagi negara tidak lagi peduli akan kelestarian hutan.
Hal itu menjadi sangat ironis sekali dengan nama mereka “PECINTA ALAM” yang notabene sebagai kaum yang mencintai alam tetapi pada kenyataannya tidak ada sama sekali kegiatan untuk melestarikan alam, yang nampak hanyalah sejumlah ekspedisi-ekspedisi sekedar mencapai puncak gunung saja bukan ekspedisi untuk keperluan penelitian, bersih-bersih gunung dari sampah atau ekspedisi penghijauan hutan dsb. Dan yang lebih menyedihkan lagi, banyak yang tidak mengetahui atau bahkan melupakan nilai-nilai berharga yang bisa diambil dari kegiatan mendaki gunung.
Untuk itu kita perlu mengkaji kembali tentang hakikat mendaki gunung yang selama ini telah diabaikan, mengapa kita mendaki gunung, untuk apa serta bagaimana mendaki gunung dan menjadi Pecinta Alam yang lebih baik ? Karena itu kita perlu kembali mempertanyakan tujuan kita mendaki gunung, salah satunya yakni dengan mempelajari filosofi mendaki gunung melalui
Selama ini kita selalu menganggap bahwa seorang pendaki gunung itu pasti dia adalah pecinta alam, sebaliknya seorang pecinta alam itu pasti juga seorang pendaki gunung. Untuk lebih jelasnya sebaiknya kita kaji kedua istilah itu sehingga kita tidak akan terjebak pada pemahaman yang keliru.
Seorang pendaki gunung dapat dikatakan sebagai orang yang gemar atau memiliki hobi melakukan kegiatan mendaki gunung.Para pendaki tidak memiliki motivasi lain selain hanya sekedar melakukan kesenangannya sendiri yakni mendaki gunung, mencari ketenangan, udara segar, kebersamaan atau menikmati keindahan alam, baik secara individu maupun secara berkelompok.
Sedangkan seorang pecinta alam adalah orang yang hidupnya benar-benar tidak bisa lepas dari alam, ciri-cirinya orang ini tidak akan betah untuk berlama-lama tinggal di keramaian kota yang padat, bising dan penuh polusi, mereka serasa tak bisa hidup bahagia jika tidak bercengkrama dengan alam dan jangan coba-coba mengekang mereka karena mereka memiliki jiwa yang sangat bebas, pemberontak dan sulit dipahami. Namun mereka memiliki kepribadian yang sangat luar biasa, tidak sombong, supel, ramah dan tak pernah putus asa sebagai buah dari hasil didikan sang alam.
Antara pendaki gunung dan pecinta alam sebenarnya memiliki kesaman, yakni sama-sama termasuk ‘orang-orang yang mencintai alam’. Namun kadar mencintai alamnya itulah yang membedakan diantara keduannya. Seorang pendaki gunung, mencintai alam hanya pada bagian luar nya saja, mereka sudah cukup puas jika bisa melihat, mendengar atau merasakan suasana alam dan tidak memiliki semangat untuk menjaga kelestariannya.
Sedangkan pecinta alam, mencintai alam secara total, baik unsur luarnya maupun unsur didalamnya seperti halnya apabila seseorang mencintai orang yang dicintainya, tentu ada yang mencintai hanya karena fisiknya, karena hatinya atau bisa karena keduanya. Nah para pecinta alam ini adalah orang-orang yang mencintai alam baik karena fisiknya maupun karena hatinya. Bagaimana kita bisa mencintai hati sang alam? Yakni dengan mencintai sifat-sifat alam seperti: Sifat alam yang sangat sulit ditebak karena terkadang bisa menjadi sahabat dan ada kalanya bisa menjadi musuh yang sangat kejam, namun sesungguhnya alam hanyalah makhluk Tuhan yang pendiam dan sangat rapuh.
Para pecinta alam adalah orang-orang yang mencintai alam disaat sedang bersahabat ataupun disaat sedang rapuh dan tak bersahabat.
Dari penjelasan tersebut, ternyata pendaki dan pecinta alam sebenarnya memilki perbedaan meskipun keduanya juga memilki kesamaan.
Untuk lebih mempermudah pemahaman, berikut adalah contoh nyata:
Apabila di sebuah gunung telah terjadi tanah longsor, pembukaan lahan, penggundulan, atau kebakaran hutan yang menyebabkan gunung menjadi gersang, panas dan tak nampak indah lagi. Maka para pendaki gunung tidak akan tertarik lagi untuk datang dan mendaki gunung tersebut, karena secara fisik gunung tersebut sudah cacat. Namun bagi para pecinta alam keadaan gunung yang seperti itu membuat mereka resah dan merasa bahwa gunung tersebut sedang terluka parah dan secepatnya harus diobati dengan segera melakukan penghijauan kembali. Itulah salah satu contoh orang yang mencintai alam secara total.
Pada saat sama-sama melakukan pendakian gunung, para pendaki gunung hanya memiliki satu tujuan yakni mendaki gunung sampai meraih puncak tanpa menghiraukan sampah-sampah yang ditemuinya atau bahkan mereka sengaja membuang sampah-sampah mereka sendiri secara sembarangan karena merasa sampah hanyalah beban. Sedangkan pecinta alam yang sedang mendaki gunung, puncak bukanlah satu-satunya tujuan karena tujuan utama mereka adalah perjalanan itu sendiri.Para pecinta alam tidak akan membuang sampah sembarangan dan mereka tak akan segan untuk mengumpulkan setiap sampah yang ditemuinya karena mereka paham betul akan bahaya sampah bagi kelestarian alam.
Pendaki gunung dan pecinta alam adalah orang yang memiliki kepribadian yang berbeda karena tujuan mereka juga berbeda. Tidak perlu menilai mana yang lebih baik diantara keduanya, sebab jauh lebih baik jika kita memilih menjadi pendaki gunung yang pecinta alam.
Seorang pendaki gunung dapat dikatakan sebagai orang yang gemar atau memiliki hobi melakukan kegiatan mendaki gunung.
Sedangkan seorang pecinta alam adalah orang yang hidupnya benar-benar tidak bisa lepas dari alam, ciri-cirinya orang ini tidak akan betah untuk berlama-lama tinggal di keramaian kota yang padat, bising dan penuh polusi, mereka serasa tak bisa hidup bahagia jika tidak bercengkrama dengan alam dan jangan coba-coba mengekang mereka karena mereka memiliki jiwa yang sangat bebas, pemberontak dan sulit dipahami. Namun mereka memiliki kepribadian yang sangat luar biasa, tidak sombong, supel, ramah dan tak pernah putus asa sebagai buah dari hasil didikan sang alam.
Antara pendaki gunung dan pecinta alam sebenarnya memiliki kesaman, yakni sama-sama termasuk ‘orang-orang yang mencintai alam’. Namun kadar mencintai alamnya itulah yang membedakan diantara keduannya. Seorang pendaki gunung, mencintai alam hanya pada bagian luar nya saja, mereka sudah cukup puas jika bisa melihat, mendengar atau merasakan suasana alam dan tidak memiliki semangat untuk menjaga kelestariannya.
Sedangkan pecinta alam, mencintai alam secara total, baik unsur luarnya maupun unsur didalamnya seperti halnya apabila seseorang mencintai orang yang dicintainya, tentu ada yang mencintai hanya karena fisiknya, karena hatinya atau bisa karena keduanya. Nah para pecinta alam ini adalah orang-orang yang mencintai alam baik karena fisiknya maupun karena hatinya. Bagaimana kita bisa mencintai hati sang alam? Yakni dengan mencintai sifat-sifat alam seperti: Sifat alam yang sangat sulit ditebak karena terkadang bisa menjadi sahabat dan ada kalanya bisa menjadi musuh yang sangat kejam, namun sesungguhnya alam hanyalah makhluk Tuhan yang pendiam dan sangat rapuh.
Dari penjelasan tersebut, ternyata pendaki dan pecinta alam sebenarnya memilki perbedaan meskipun keduanya juga memilki kesamaan.
Untuk lebih mempermudah pemahaman, berikut adalah contoh nyata:
Apabila di sebuah gunung telah terjadi tanah longsor, pembukaan lahan, penggundulan, atau kebakaran hutan yang menyebabkan gunung menjadi gersang, panas dan tak nampak indah lagi. Maka para pendaki gunung tidak akan tertarik lagi untuk datang dan mendaki gunung tersebut, karena secara fisik gunung tersebut sudah cacat. Namun bagi para pecinta alam keadaan gunung yang seperti itu membuat mereka resah dan merasa bahwa gunung tersebut sedang terluka parah dan secepatnya harus diobati dengan segera melakukan penghijauan kembali. Itulah salah satu contoh orang yang mencintai alam secara total.
Pada saat sama-sama melakukan pendakian gunung, para pendaki gunung hanya memiliki satu tujuan yakni mendaki gunung sampai meraih puncak tanpa menghiraukan sampah-sampah yang ditemuinya atau bahkan mereka sengaja membuang sampah-sampah mereka sendiri secara sembarangan karena merasa sampah hanyalah beban. Sedangkan pecinta alam yang sedang mendaki gunung, puncak bukanlah satu-satunya tujuan karena tujuan utama mereka adalah perjalanan itu sendiri.
Pendaki gunung dan pecinta alam adalah orang yang memiliki kepribadian yang berbeda karena tujuan mereka juga berbeda. Tidak perlu menilai mana yang lebih baik diantara keduanya, sebab jauh lebih baik jika kita memilih menjadi pendaki gunung yang pecinta alam.
PENDAKI GUNUNG, PECINTA ALAM DAN PETUALANG......., sekilas memang istilah tersebut hampir sama namun sesungguhnya sangat berbeda. Tentang Pendaki dan Pecinta alam sudah dibahas sebelumnya, tetapi bagaimana dengan petualang?
Petualang, sebenarnya sangat identik dengan seseorang yang memiliki keberanian dan rasa ingin tahu yang begitu besar dan melebihi orang-orang pada umumnya. Seorang petualang bisa dibilang sebagai penjelajah yang siap bertaruh dengan apapun yang Ia miliki sampai dengan nyawanya sekalipun. Seorang petualang alam sejati tidak akan pernah berhenti untuk tetap menjelajahi alam yang belum pernah Ia jejaki.
Seorang petualang biasanya selalu menjadi pioner diantara kaumnya meskipun sesungguhnya Ia tidak pernah berniat untuk menjadi orang pertama atau mencari sensasi dan popularitas , karena yang mereka cari adalah terjawabnya rasa ingin tahu yang begitu besar di dalam pikirannya. Oleh karena itu, seorang petualang hidupnya tak pernah “stagnan”, Pribadinya begitu dinamis, optimis dan memiliki semangat yang tak wajar. Mereka berpetualang untuk memenuhi kebutuhan dirinya, sebab rasa ingin tahunya yang terlampau besar akan menyiksanya jika terus-terusan dipendam. Namun karena keberanian dan semangatnya itulah yang justru dengan sendirinya akan membuatnya dikenal dan hidupnya abadi karena orang lain akan selalu membicarakan apa yang Ia temukan dalam setiap penjelajahannya.
Kita bisa mengambil contoh seorang “Amerigo Vespuci atau Colombus” yang gemar berpetualang. Sampai kini orang-orang akan tetap mengenangnya sebagai penemu benua Amerika. Padahal meskipun mereka tidak pernah mengadakan ekspedisi menyeberangi samudera atlantik, benua Amerika sebenarnya memang sudah ada. Namun karena mereka orang yang pertama kali berani menyeberangi samudera yang konon dipenuhi ular naga dan gurita raksasa, akhirnya mereka juga yang kini lebih dikenal.
Karena mereka bekerja dengan hati, maka sesungguhnya popularitas dengan sendirinya akan mengiringi. Lalu, lebih baik mana antara Pendaki gunung, Pecinta alam atau Petualang?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, adalah lebih mudah jika kita mengacu pada tujuan yang ingin dicapai. Mengapa? Sebab bagimanapun besarnya semangat atau keberanian seseorang, jika tujuannya tidak baik dan kurang bermanfaat maka dengan sendirinya sesungguhnya orang itu akan dipandang buruk.
Contoh:
- Seorang pendaki gunung atau pecinta alam berniat untuk mendaki gunung sampai puncak, dalam perjalanan Ia menemukan sampah dan kemudian ia ambil untuk dibawa sampai turun dan membuangnya di tempat sampah. Lain cerita, ada seseorang yang gemar sekali berpetualang dengan menjelajahi hutan. Sampai suatu saat Ia menemukan sumber mineral yang berharga, sehingga kemudian Ia segera menjual kepada pihak pengelola karena Ia tahu bahwa informasi yang Ia miliki pasti sangat mahal harganya. Akhirnya masuklah pengelola kedalam hutan dan melakukan penambangan besar-besaran tanpa memperhatikan kelestarian alam sekitar.
Adalagi contoh sebagai berikut:
- Sebuah kelompok Pecinta alam berniat mengadakan penghijauan di lahan hutan yang gundul dengan harapan nama kelompoknya akan dikenal atau mendapatkan penghargaan dari pihak-pihak terkait sehingga anggotanya akan semakin bertambah dan bisa lebih mudah untuk mencari dana guna mengadakan sejumlah ekspedisi pendakian gunung yang tujuannya tak lain hanya mengoleksi puncak sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan prestise organisasi.
– Ada seorang yang gemar sekali berpetualang, kali ini Ia ingin mengadakan ekspedisi mendaki gunung dengan membuka jalur baru sebab menurut keterangan masyarakat sekitar, ada aliran sungai yang cukup deras yang mengalir dari lereng gunung, tapi tidak satupun orang yang berani untuk mencari sumber air tersebut karena masuk kedalam wilayah hutan yang disakralkan. Untuk menjawab rasa penasaran itu, maka sang petualang ini membuka jalur baru dan berhasil menemukan air terjun dan beberapa sungai yang belum pernah terjamah oleh manusia. Akhirnya, jalur yang Ia lalui kini menjadi jalur pendakian baru yang cukup diminati karena selain pemandangannya yang menarik, juga mudah untuk mencari air. Kemudian sang petualang ini bekerja sama dengan sejumlah pecinta alam dan pemerintah setempat untuk menjadikan kawasan yang telah Ia ketemukan itu sebagai kawasan
Dari beberapa contoh diatas, bisa kita lihat manakah yang jauh lebih baik. Dengan begitu kita akan mengerti bahwa kunci dari setiap melakukan sesuatu itu terletak pada tujuannya.
Kita tidak bisa menilai sesuatu hanya berdasarkan nama atau sebutan saja. Jadi lebih baik lagi jika
Jika kita mampu bekerja dengan ketulusan hati dan keberanian, sesungguhnya popularitas atau keabadian hidup itu akan hadir dengan sendirinya untuk mengiringi setiap langkah yang kau jejaki.
Jadi, lebih baik menjadi “pendaki gunung yang pecinta alam dan berjiwa petualang sejati”. Pasti jiwa dan jasadmu akan selalu dirindukan oleh alam dan orang-orang akan angkat topi kepadamu meskipun biasanya selalu terlambat.....***
Ada beberapa pertanyaan atau anggapan klasik yang mungkin sampai sekarang masih saja ditanyakan kepada para penggiat kegiatan alam bebas. Pertanyaan dan anggapan-anggapan klasik yang sudah pasti menjadi santapan basi bagi para pendaki gunung, pecinta alam ataupun para petualang alam bebas di seluruh dunia.
Pertanyaan-pertanyaan seperti:
*Untuk apa mendaki gunung?
*Apa manfaat dari mendaki gunung?
*Keuntungan apa yang bisa diambil dari mendaki gunung?
*Apa yang diberikan gunung kepadamu?
Atau anggapan-anggapan seperti:
* Mendaki gunung hanya perbuatan menyia-nyiakan waktu, tenaga dan uang saja.
*Para pendaki gunung itu adalah kaum”Hedonist” yang hanya memuja kesenangan-kesenangan secara berlebihan.
*Para pendaki gunung adalah orang-orang yang memiliki kelainan jiwa “Amor Fati” atau orang-orang yang mencintai kematian.
* Tewas saat mendaki gunung adalah mati konyol.
Coba kita renungkan kembali beberapa pertanyaan atau anggapan-anggapan klasik tersebut. Meskipun terkesan biasa atau mungkin tidak terlalu sulit untuk dijawab. Pada kenyataannya, jawaban-jawaban yang mungkin bisa membuat mulut kita sampai berbusa untuk menjelaskannya itu, ternyata tak pernah bisa dijawab atau dijelaskan oleh para pendaki, sehingga memuaskan atau minimal mampu membuat orang-orang yang bertanya menjadi terkesan dan mau mengerti.
Pertanyaan-pertanyaan seperti:
*Untuk apa mendaki gunung?
*Apa manfaat dari mendaki gunung?
*Keuntungan apa yang bisa diambil dari mendaki gunung?
*Apa yang diberikan gunung kepadamu?
Atau anggapan-anggapan seperti:
* Mendaki gunung hanya perbuatan menyia-nyiakan waktu, tenaga dan uang saja.
*
*
* Tewas saat mendaki gunung adalah mati konyol.
Coba kita renungkan kembali beberapa pertanyaan atau anggapan-anggapan klasik tersebut. Meskipun terkesan biasa atau mungkin tidak terlalu sulit untuk dijawab. Pada kenyataannya, jawaban-jawaban yang mungkin bisa membuat mulut kita sampai berbusa untuk menjelaskannya itu, ternyata tak pernah bisa dijawab atau dijelaskan oleh para pendaki, sehingga memuaskan atau minimal mampu membuat orang-orang yang bertanya menjadi terkesan dan mau mengerti.
Mengapa demikian?
Sekali lagi................Sesungguhnya hal-hal yang terlihat mudah justru adalah hal yang paling sulit. Seperti kata orang-orang bijak” Orang besar selalu mudah mengatasi masalah-masalah besar, tetapi selalu mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan masalah-masalah kecil”
Mungkin hampir semua pendaki gunung akan dengan mudah mengatasi rasa dingin, medan yang berat atau alam yang kejam karena telah terbiasa, tetapi ketika dihadapkan pada pertanyaan dan anggapan seperti itu dari orang-orang terdekatnya, belum tentu semua pendaki gunung mampu mengatasinya. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk diam atau menghindar daripada harus melakukan sesuatu yang menurutnya sia-sia saja, yakni “Menjelaskan kepada orang yang nggak mungkin bisa ngerti”.Ada juga yang langsung menjawab” Kalau ingin tahu ya coba aja sendiri!”.
Meskipun pertanyaan atau anggapan-anggapan seperti itu sebenarnya sudah sangat “klise” atau bahkan sudah berkarat di otak para pendaki gunung, ternyata tak mudah untuk menjawab atau menjelaskannya.
Untuk menjawabnya memang dibutuhkan penjelasan yang bisa membuat orang-orang yang bertanya itu, menjadi turut berpikir kembali. Bukan justru membingungkannya atau membuatnya menjadi semakin tidak simpatik.
Pendaki gunung itu adalah orang-orang yang telah berguru pada alam. Guru yang langsung diciptakan oleh Tuhan untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Jadi bisa dibilang, orang-orang yang berguru pada alam itu sesungguhnya telah berguru pada sang maha guru. Maha guru yang lebih banyak memberi dan tak pernah meminta.
Karena ilmu tanpa batas itu sumbernya dari Tuhan, maka alam adalah sebagai medianya. Nabi Musa saja harus mendaki gunung Sinai ketika akan mendapatkan kitab Taurat. Nabi Muhammad juga harus mendaki bukit (jabal) dan tinggal di Gua Hiro yang tidak semua orang bisa mdengan mudah menggapai tempat tersebut, sebelum akhirnya menerima wahyu yang pertama. Demikian pula para empu yang harus mendaki gunung untuk bertapa sampai pada akhirnya mendapatkan pencerahan berupa ilmu atau kesaktian.
Kita tidak harus seperti para nabi atau empu, minimal ketika kita berniat untuk mendaki gunung selalu ada tujuan yang pasti, meskipun tujuan yang paling rendah sekalipun yakni sekedar hobi. Dengan demikian kita akan dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. “Saya mendaki gunung karena hobi dan kebetulan ada cukup uang, daripada saya mabuk-mabukan, judi atau melakukan kegiatan negatif lainnya, bukankah lebih baik mendaki gunung..? bisa banyak teman, mengenal alam lebih dekat dan lebih sehat”. Atau bisa dengan jawaban “Saya mendaki gunung karena saya menghargai hidup yang diberikan Tuhan kepada saya. Daripada saya harus terus-terusan menghabiskan umur dikota menggeluti pekerjaan tanpa henti. Bukankah ada baiknya saya mendatangi tempat-tempat yang cukup menantang untuk saya kunjungi? Dengan begitu saya bisa lebih menghargai anugerah hidup yang telah diberikan Tuhan kepada Saya. Kaki untuk menjelajah dan mendaki, tangan untuk menolong dan menulis pengalaman, mata untuk melihat keagungan ciptaan Tuhan, telinga untuk mendengar suara alam yang sangat indah. Semua itu untuk mendekatkan saya pada Tuhan”.Dijamin jawaban saudara akan mendapat respon yang positif. Namun, kalau masih belum ada respon positif juga, mungkin ada baiknya saudara mengajak orang yang bertanya itu untuk naik gunung juga. Bukankah “jika tak kenal maka tak sayang” Demikian pula dengan mendaki gunung, sekali mencoba pasti ketagihan, kalau tidak ketagihan....ya pasti kapok untuk bertanya lagi.
Jadi kegiatan mendaki gunung, harus memiliki tujuan yang jelas agar kegiatan yang kita lakukan tidak sia-sia.
Ada beberapa tingkatan “Tujuan mendaki gunung”, yakni sebagai berikut:
Tujuan mendaki gunung yang pertama, bisa dibilang tujuan yang paling rendah adalah ”Untuk hobi atau kesenangan pribadi semata”.Para pendaki gunung yang bertujuan untuk hobi ini, biasanya mendaki gunung untuk sekedar rekreasi, mengisi waktu luang atau melepas kepenatan. Orang-orang ini mendaki gunung untuk menikmati pemandangan alam, menghirup udara segar atau berkemah bersama teman-teman. Puncak gunung bukanlah harga mati, karena yang mereka kejar hanyalah kesenangan semata. Jadi meskipun mereka mendaki gunung tidak sampai ke puncak, sebenarnya mereka sudah cukup puas.
Tingkat kedua, tujuan mendaki gunung “Untuk prestise atau mendapatkan pengakuan”.Para pendaki yang mendaki gunung untuk tujuan seperti ini, yang mereka kejar hanya puncak. Jadi puncak gunung adalah harga mati bagi mereka. Bagaimanapun caranya, puncak harus bisa diraih, karena mereka beranggapan semakin banyak puncak gunung yang dikoleksi,maka prestise akan meningkat pula dan Ia-pun akan mendapat pengakuan dari orang lain (meskipun kenyataannya justru dianggap sombong dan kurang begitu dianggap oleh kebanyakan pendaki).
Tingkatan yang lebih tinggi yakni “ Untuk pengalaman dan Ilmu pengetahuan”. Orang-orang yang bertujuan seperti ini tidak hanya “pendaki gunung atau petualang saja”, tetapi bisa juga para ahli yang mendaki gunung untuk keperluan penelitian. Contoh: Seorang ahli “Vulkanologi” harus mendaki gunung untuk meneliti keadaan kawah sebuah gunung, Seorang pendaki yang mendaki gunung untuk keperluan membuat peta, seorang ahli yang mendaki gunung untuk keperluan meneliti jenis-jenis hewan dan tumbuhan di sebuah gunung, seorang petualang yang mendaki gunung untuk membuka jalur pendakian atau mencari lokasi sumber air dsb. Orang-orang yang memiliki tujuan ini, biasanya mengabaikan “Prestise”atau bahkan “nyawanya” sekalipun karena tujuan utama mereka adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam benak mereka. Demi ilmu pengetahuan dan pengalaman baru sehingga bermanfaat untuk dirinya dan juga orang lain.
Tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi adalah “ Untuk pelestarian alam atau misi penyelamatan”. Biasanya banyak dari kalangan para “Pecinta alam” (Pecinta alam yang sebenarnya),Tim SAR atau polisi hutan. Mereka mendaki gunung untuk kelestarian alam, misalnya reboisasi di lereng gunung, ekspedisi bersih-bersih gunung dari coretan-coretan dan sampah gunung, perbaikan jalur pendakian untuk mencegah adanya jalur-jalur bayangan yang akan menyesatkan pendaki, Tim SAR yang mendaki gunung untuk mencari pendaki yang hilang, para polisi hutan yang mendaki gunung untuk menjaga hutan dari bahaya kebakaran atau memburu para penebang dan pemburu liar.
Tingkatan berikutnya yang lebih tinggi lagi adalah “Untuk mengasah pribadi dan menemukan hakekat diri”. Orang-orang yang memiliki tujuan seperti inilah orang yang mampu berguru pada alam. Mereka mendaki gunung untuk menyendiri dan merenung guna mendapatkan kedamaian dan pencerahan dari Tuhan dengan mengakrabi alam. Karena dengan begitu mereka akan tahu bahwa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alam apalagi Tuhan. Tujuan mendaki gunung seperti ini tidak hanya bisa dilakukan oleh para pertapa saja, yang biasanya mendaki gunung dan tinggal disana dalam waktu yang cukup lama sampai mendapat ilmu. Namun, sebenarnya para pendaki gunung biasa juga bisa memiliki tujuan seperti ini, kebanyakan para pendaki yang sudah cukup berpengalaman biasanya mendaki gunung untuk tujuan seperti ini. Mereka mendaki gunung bukan lagi untuk hobi atau mengejar prestise, tetapi mereka mendaki karena “panggilan jiwa” yang harus terus dipenuhi. Mereka seolah tak bisa hidup jauh dari gunung. Meskipun telah lama tidak mendaki gunung, namun keinginan untuk mendaki itu pasti akan tetap ada karena sudah menjadi kebutuhan. Mereka meyakini bahwa ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari mendaki gunung. Dengan mengakrabi alam, maka dengan sendirinya alam akan mengajarkan banyak ilmu kepada kita.
Jadi, jelas bahwa gunung adalah media untuk menempa pribadi manusia sebelum akhirnya mendapatkan ilmu yang berasal dari Tuhan. Ilmu yang tak terbatas dan tidak bisa didapatkan hanya dari sekolah atau kuliah saja.
Ilmu apakah itu?
Ilmu tentang “hakikat diri dan Pemahaman akan arti kehidupan”.
Bagaimana cara memahaminya?
Salah satu caranya adalah dengan “Banyak mendaki gunung”.
Demikian tadi beberapa tingkatan dalam mendaki gunung jika dilihat dari tujuannya. Namun diantara tingkatan tersebut sebenarnya masih ada tingkatan yang jauh lebih rendah lagi, yaitu mendaki gunung untuk “Eksploitasi hutan atau merusak hutan”. Namun tidak saya masukkan dalam tingkatan tersebut karena saya beranggapan itu seharusnya bukan merupakan tujuan mendaki gunung bagi para pendaki gunung.
Jadi pastikan terlebih dahulu tujuan kita sebenarnya sebelum kita mendaki gunung, sehingga kegiatan yang kita lakukan nanti tidak akan sia-sia, dan jika nanti seandainya kita terpaksa harus mati di gunung sekalipunpun, maka kita tidak akan mati konyol karena minimal kita sudah memiliki tujuan yang jelas.
Tak ada pendaki yang mati di gunung, mati sia-sia. Mereka hanya manusia biasa yang telah berani menghargai hidup dan memenuhi takdirnya saja.
‘Kematian’ ketika mendaki gunung adalah resiko yang harus dihadapi dengan keberanian.
Sekali lagi................Sesungguhnya hal-hal yang terlihat mudah justru adalah hal yang paling sulit. Seperti kata orang-orang bijak” Orang besar selalu mudah mengatasi masalah-masalah besar, tetapi selalu mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan masalah-masalah kecil”
Mungkin hampir semua pendaki gunung akan dengan mudah mengatasi rasa dingin, medan yang berat atau alam yang kejam karena telah terbiasa, tetapi ketika dihadapkan pada pertanyaan dan anggapan seperti itu dari orang-orang terdekatnya, belum tentu semua pendaki gunung mampu mengatasinya. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk diam atau menghindar daripada harus melakukan sesuatu yang menurutnya sia-sia saja, yakni “Menjelaskan kepada orang yang nggak mungkin bisa ngerti”.
Meskipun pertanyaan atau anggapan-anggapan seperti itu sebenarnya sudah sangat “klise” atau bahkan sudah berkarat di otak para pendaki gunung, ternyata tak mudah untuk menjawab atau menjelaskannya.
Untuk menjawabnya memang dibutuhkan penjelasan yang bisa membuat orang-orang yang bertanya itu, menjadi turut berpikir kembali. Bukan justru membingungkannya atau membuatnya menjadi semakin tidak simpatik.
Pendaki gunung itu adalah orang-orang yang telah berguru pada alam. Guru yang langsung diciptakan oleh Tuhan untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Jadi bisa dibilang, orang-orang yang berguru pada alam itu sesungguhnya telah berguru pada sang maha guru. Maha guru yang lebih banyak memberi dan tak pernah meminta.
Karena ilmu tanpa batas itu sumbernya dari Tuhan, maka alam adalah sebagai medianya. Nabi Musa saja harus mendaki gunung Sinai ketika akan mendapatkan kitab Taurat. Nabi Muhammad juga harus mendaki bukit (jabal) dan tinggal di Gua Hiro yang tidak semua orang bisa mdengan mudah menggapai tempat tersebut, sebelum akhirnya menerima wahyu yang pertama. Demikian pula para empu yang harus mendaki gunung untuk bertapa sampai pada akhirnya mendapatkan pencerahan berupa ilmu atau kesaktian.
Kita tidak harus seperti para nabi atau empu, minimal ketika kita berniat untuk mendaki gunung selalu ada tujuan yang pasti, meskipun tujuan yang paling rendah sekalipun yakni sekedar hobi. Dengan demikian kita akan dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. “Saya mendaki gunung karena hobi dan kebetulan ada cukup uang, daripada saya mabuk-mabukan, judi atau melakukan kegiatan negatif lainnya, bukankah lebih baik mendaki gunung..? bisa banyak teman, mengenal alam lebih dekat dan lebih sehat”. Atau bisa dengan jawaban “Saya mendaki gunung karena saya menghargai hidup yang diberikan Tuhan kepada saya. Daripada saya harus terus-terusan menghabiskan umur di
Jadi kegiatan mendaki gunung, harus memiliki tujuan yang jelas agar kegiatan yang kita lakukan tidak sia-sia.
Tujuan mendaki gunung yang pertama, bisa dibilang tujuan yang paling rendah adalah ”Untuk hobi atau kesenangan pribadi semata”.
Tingkat kedua, tujuan mendaki gunung “Untuk prestise atau mendapatkan pengakuan”.
Tingkatan yang lebih tinggi yakni “ Untuk pengalaman dan Ilmu pengetahuan”. Orang-orang yang bertujuan seperti ini tidak hanya “pendaki gunung atau petualang saja”, tetapi bisa juga para ahli yang mendaki gunung untuk keperluan penelitian. Contoh: Seorang ahli “Vulkanologi” harus mendaki gunung untuk meneliti keadaan kawah sebuah gunung, Seorang pendaki yang mendaki gunung untuk keperluan membuat peta, seorang ahli yang mendaki gunung untuk keperluan meneliti jenis-jenis hewan dan tumbuhan di sebuah gunung, seorang petualang yang mendaki gunung untuk membuka jalur pendakian atau mencari lokasi sumber air dsb. Orang-orang yang memiliki tujuan ini, biasanya mengabaikan “Prestise”atau bahkan “nyawanya” sekalipun karena tujuan utama mereka adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam benak mereka. Demi ilmu pengetahuan dan pengalaman baru sehingga bermanfaat untuk dirinya dan juga orang lain.
Tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi adalah “ Untuk pelestarian alam atau misi penyelamatan”. Biasanya banyak dari kalangan para “Pecinta alam” (Pecinta alam yang sebenarnya),Tim SAR atau polisi hutan. Mereka mendaki gunung untuk kelestarian alam, misalnya reboisasi di lereng gunung, ekspedisi bersih-bersih gunung dari coretan-coretan dan sampah gunung, perbaikan jalur pendakian untuk mencegah adanya jalur-jalur bayangan yang akan menyesatkan pendaki, Tim SAR yang mendaki gunung untuk mencari pendaki yang hilang, para polisi hutan yang mendaki gunung untuk menjaga hutan dari bahaya kebakaran atau memburu para penebang dan pemburu liar.
Tingkatan berikutnya yang lebih tinggi lagi adalah “Untuk mengasah pribadi dan menemukan hakekat diri”. Orang-orang yang memiliki tujuan seperti inilah orang yang mampu berguru pada alam. Mereka mendaki gunung untuk menyendiri dan merenung guna mendapatkan kedamaian dan pencerahan dari Tuhan dengan mengakrabi alam. Karena dengan begitu mereka akan tahu bahwa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alam apalagi Tuhan. Tujuan mendaki gunung seperti ini tidak hanya bisa dilakukan oleh para pertapa saja, yang biasanya mendaki gunung dan tinggal disana dalam waktu yang cukup lama sampai mendapat ilmu. Namun, sebenarnya para pendaki gunung biasa juga bisa memiliki tujuan seperti ini, kebanyakan para pendaki yang sudah cukup berpengalaman biasanya mendaki gunung untuk tujuan seperti ini. Mereka mendaki gunung bukan lagi untuk hobi atau mengejar prestise, tetapi mereka mendaki karena “panggilan jiwa” yang harus terus dipenuhi. Mereka seolah tak bisa hidup jauh dari gunung. Meskipun telah lama tidak mendaki gunung, namun keinginan untuk mendaki itu pasti akan tetap ada karena sudah menjadi kebutuhan. Mereka meyakini bahwa ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari mendaki gunung. Dengan mengakrabi alam, maka dengan sendirinya alam akan mengajarkan banyak ilmu kepada kita.
Jadi, jelas bahwa gunung adalah media untuk menempa pribadi manusia sebelum akhirnya mendapatkan ilmu yang berasal dari Tuhan. Ilmu yang tak terbatas dan tidak bisa didapatkan hanya dari sekolah atau kuliah saja.
Ilmu apakah itu?
Ilmu tentang “hakikat diri dan Pemahaman akan arti kehidupan”.
Bagaimana cara memahaminya?
Salah satu caranya adalah dengan “Banyak mendaki gunung”.
Demikian tadi beberapa tingkatan dalam mendaki gunung jika dilihat dari tujuannya. Namun diantara tingkatan tersebut sebenarnya masih ada tingkatan yang jauh lebih rendah lagi, yaitu mendaki gunung untuk “Eksploitasi hutan atau merusak hutan”. Namun tidak saya masukkan dalam tingkatan tersebut karena saya beranggapan itu seharusnya bukan merupakan tujuan mendaki gunung bagi para pendaki gunung.
Jadi pastikan terlebih dahulu tujuan kita sebenarnya sebelum kita mendaki gunung, sehingga kegiatan yang kita lakukan nanti tidak akan sia-sia, dan jika nanti seandainya kita terpaksa harus mati di gunung sekalipunpun, maka kita tidak akan mati konyol karena minimal kita sudah memiliki tujuan yang jelas.
Tak ada pendaki yang mati di gunung, mati sia-sia. Mereka hanya manusia biasa yang telah berani menghargai hidup dan memenuhi takdirnya saja.
‘Kematian’ ketika mendaki gunung adalah resiko yang harus dihadapi dengan keberanian.
MENDAKI GUNUNG DAPAT MENGASAH PRIBADI
Seperti halnya melukis , membuat lagu atau mengarang, awalnya adalah sekedar untuk hobi atau kesenangan semata. Namun apabila ditekuni dengan sungguh-sungguh sampai mendarah daging maka kegiatan hobi tersebut tak ubahnya seperti kebutuhan makan dan minum saja. Hingga tak disadari bahwa kegiatan yang ditekuni karena kesenangan itu kelak mampu mengubah pribadi seseorang.
Ya..........semua berawal dari sekedar hobi yang terus-menerus ditekuni hingga mampu mengubah pribadi seseorang, dari pribadi yang kasar menjadi pribadi yang lebih lembut dan sabar.
Sebagaimana kata Ki Hajar Dewantara, bahwa Seni itu sebagai penghalus budi pekerti. Dan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia seni termasuk seni mendaki gunung, artinya mendaki gunung dengan menggunakan akal dan perasaan, dasarnya adalah kesenangan.
Mendaki gunung adalah kegiatan yang didasari karena kesenangan, dan apabila terus menerus ditekuni maka tidak lagi untuk kesenangan melainkan sudah menjadi kebutuhan.
Jika kebutuhan itu terus dipenuhi maka dengan sendirinya akan merubah sikap dan perilakunya. Seharusnya perubahan sikap dan perilaku tersebut adalah lebih baik bukan menjadi lebih buruk.
Melalui kegiatan mendaki gunung, kita akan mampu mengenali pribadi teman yang sebenarnya. Sebab, ketika kita mendaki gunung, beberapa karakter pribadi orang yang sebenarnya akan nampak karena situasi yang sedang dihadapi. Misalnya: Kelelahan, kedinginan, kehabisan bekal makanan atau air, terjebak badai, tersesat, mengalami musibah kecelakaan, ada teman yang sakit, atau bahkan karena gagal sampai ke puncak.
Kita juga bisa mengamati bahwa ada juga para pendaki yang mendaki gunung sambil membawa narkoba (cimeng). Sungguh sangat disayangkan jika kegiatan yang seharusnya lebih positif, justru akan tercoreng dengan tingkah laku para pendaki yang seperti itu.
Melalui kegiatan mendaki gunung, kita akan mampu mengasah pribadi. Dari pribadi yang sombong menjadi pribadi yang lebih rendah diri, dari pribadi perusak menjadi pribadi yang lebih menghargai alam. Siapa yang mengasahnya?....jawabannya adalah Tuhan melalui tangan sang alam.
Dengan mendaki gunung, paling tidak kita akan mampu mengetahui bahwa kita hanyalah seperti seekor semut yang merayap lamban di tengah luasnya hutan. Kita hanya mahluk biasa yang tak berdaya jika berada di alam bebas, tidur di tanah, minum air mentah, berlindung dari dinginnya udara, tak berdaya di tengah kabut atau tak berkutik jika tersesat dan kehabisan bekal. Itulah kita, manusia yang sebenarnya, tak berdaya di tengah alam, apalagi untuk melawannya. Lalu apalagi yang kita sombongkan, melawan alam saja tidak berdaya apalagi melawan kekuasaan sang pencipta alam. Demikianlah alam akan mengajarkan kepada kita ilmu tentang “ rendah diri dan tidak sombong”.
Jika ada seorang pendaki merasa sombong karena Ia telah merasa menaklukkan sebuah gunung atau ratusan gunung dengan mendaki sampai puncaknya, sesungguhnya Ia mendaki hanya mendapatkan rasa letih saja tidak lebih. Gunung adalah salah satu guru yang mengajarkan banyak ilmu kepada manusia, bagaimana bisa guru akan mengajarkan ilmunya jika muridnya merasa sombong terlebih dahulu?
Mendaki gunung hanya untuk kesenangan atau hobi itu tidak salah, tetapi alangkah baiknya jika kita mendaki gunung sekaligus belajar pada alam, yakni belajar tentang segala ilmu yang mungkin dapat diajarkan alam kepada kita. Kemudian, apabila kita sudah memiliki ilmunya maka kita bisa mengajarkannya kepada orang lain yang belum tahu. Dengan demikian, kegiatan mendaki gunung kelak akan menjadi sebuah kegiatan yang jauh lebih bermartabat dan lebih dihargai oleh orang lain.
GUNUNG ADALAH SUMBER ILMU
Kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa ada banyak sekali ilmu yang sesungguhnya bisa kita petik dari kegiatan mendaki gunung. Ilmu apa sajakah itu?
Berikut ini hanyalah sebagian dari beberapa kelompok ilmu yang bisa diajarkan gunung kepada kita:
1. Ilmu pengetahuan alam
Tak dapat dipungkiri, bahwa gunung adalah sumber ilmu pengetahuan.
Cabang-cabang ilmu pengetahuan tersebut, tentu saja tak begitu saja muncul. Melainkan melalui proses pencarian dan penemuan secara berkala oleh orang-orang yang memang senang sekali menjelajah gunung-gunung, dan kegiatan pencarian itulah yang sebenarnya disebut dengan ekspedisi. Jadi ekspedisi bukan sekedar mendaki puncak-puncak gunung lalu pulang kembali tanpa menghasilkan sesuatu. Jika ada kegiatan ekspedisi yang demikian, bisa disebut hanya sekedar kegiatan melakukan hobi mendaki gunung. Bukan melakukan ekspedisi.
2. Ilmu sosial
Kegiatan mendaki gunung juga akan berdampak pada bertambahnya wawasan tentang ilmu sosial kita. Sebab, setiap kita mendaki gunung maka kita akan selalu bertemu dan berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sendiri, penduduk desa atau dengan para pendaki yang mungkin kita jumpai. Kita akan belajar bagaimana bergaul, menghormati dan bersikap baik dengan orang lain, karena jika kita tidak mampu beradaptasi dengan baik, maka kita akan merasakan kerugian yang bisa langsung kita rasakan sendiri.
Dengan mendaki gunung, mengajarkan kita untuk bersosialisasi, bekerjasama dan menjalin tali persahabatan. Oleh karena itu, setelah melakukan kegiatan mendaki gunung, biasanya kita akan merasakan tali persahabatan terjalin lebih erat daripada sebelumnya. Sebab, kita sudah melalui hidup bersama mengatasi berbagai kesulitan, tidur bersama, makan bersama, susah bersama, dan senang bersama selama beberapa hari di alam bebas.
Selain itu, kita juga akan banyak belajar tentang masyarakat desa. Sebab ketika kita melalui desa atau dusun terpencil tempat kita melakukan titik awal pendakian, maka secara tak langsung kita akan belajar mengenal tentang kebudayaan masyarakat baru yang kita temui disana. Baik bahasanya, agamanya, sistem sosialnya, mata pencahariannya, ilmu pengetahuannya, keseniannya, atau adat istiadatnya. Meskipun mungkin kita hanya singgah beberapa hari saja di desa mereka, tapi sebenarnya secara tak langsung kita telah mempelajari sedikit tentang masyarakat desa yang kita singgahi. Dengan demikian, jika kita peka terhadap lingkungan masyarakat yang kita temui, maka kita akan mudah bergaul dengan mereka dan begitu juga dengan mereka akan lebih menghormati kedatangan kita.
Oleh karena itu, sangat disayangkan jika kita hanya sekedar melakukan pendakian gunung tanpa memperhatikan lingkungan masyarakat desa yang kita temui. Kita akan kehilangan beberapa ilmu yang sesungguhnya dapat bermanfaat baik bagi kita sendiri ataupun bagi orang lain.
Lebih baik lagi jika kita akan mendaki gunung, sebelumnya juga mempelajari tentang karakter masyarakat di desa tempat kita melakukan titik awal pendakian. Meski terlihat sepele, tetapi sesungguhnya hal ini sangat penting untuk diri kita sendiri. Karena itu jadilah pecinta alam yang gemar menulis rencana dan catatan perjalanan.
3. Ilmu Filsafat
Mendaki gunung akan mendekatkan kita kepada alam, hal ini tentu bukan rahasia lagi. Sama halnya dengan seorang pelaut yang mengatakan bahwa ‘dengan mengarungi lautan kita akan mengenal diri kita dan bisa lebih menghormati alam’. Sebenarnya hampir sama antara pelaut, pendaki gunung, penerbang atau bahkan astronot. Semakin kita menjelajahi alam maka kita justru akan merasa dekat dengan alam, baik sebagai sahabat atau musuh sekalipun. Jika kita merasakan kedekatan dengan alam dan mengenal alam dengan baik, maka dengan sendirinya kita akan tahu siapakah sebenarnya kita ini.
Jika kita sedang berada di tempat yang aman dan nyaman, berada di rumah, gedung atau hotel dengan dikelilingi orang-orang terdekat kita. Mungkin kita akan merasa sebagai manusia yang memang lebih unggul dari makhluk lainnya. Tetapi jika sedang berada di tengah hutan yang gelap, dikelilingi kabut dan udara yang menusuk tulang. Kita akan tahu bahwa kita hanyalah makhluk yang paling lemah. Kita kalah jauh dengan tumbuhan dan hewan yang mampu bertahan hidup di tengah hutan tanpa membawa bekal makanan atau tenda untuk berlindung dari hujan dan dinginnya udara.
Dengan mendaki gunung, kita akan terbiasa merasakan betapa lemahnya diri kita dan betapa dahsyatnya kekuatan sang alam. Apalagi penciptanya?
Apabila kita sampai di puncak-puncak gunung, kita akan melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Di atas kita, ada langit yang seolah begitu dekat dan luas. Di bawah kita, terhampar dataran yang dihuni oleh berjuta-juta manusia dengan berbagai kesibukannya. Dan ternyata kita hanyalah satu diantara berjuta-juta makhluk yang tinggal di bawah sana. Semua tampak seperti debu yang bertebaran di padang yang luas. Apa lagi yang bisa kita sombongkan?
Demikianlah, dengan mendaki gunung kita akan merasakan kedekatan dengan alam yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada kedekatan diri kita dengan Tuhan. Jadi dengan mendaki gunung, kita akan belajar ilmu agama yang jauh lebih tinggi, yakni ilmu hakikat diri.
Hal-hal demikian ini, sesungguhnya sudah dibuktikan oleh para nabi dan kaum petapa yang gemar sekali mendaki gunung untuk sekedar bertapa dan menyendiri guna mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dengan menyendiri di gunung-gunung selama beberapa hari bahkan sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun, mereka merasakan kedekatan dengan Tuhannya. Sampai pada akhirnya, mereka dikaruniai beberapa ilmu yang tak semua orang bisa mendapatkannya.
Ilmu hakikat.
“Jika kita mampu mengenali diri sendiri, maka kita akan mengenali Tuhan” (Petikan kalimat dari para kaum hukamah/sufi)
BELAJAR DARI FILOSOFI MENDAKI GUNUNG
Gunung adalah bayang-bayang kehidupan
Puncaknya adalah cita-cita
Lerengnya adalah usaha
Lembahnya adalah iman dan pengetahuan
Hutannya adalah anugerah
Dan kabutnya adalah cobaan
Semakin runcing sebuah gunung
Semakin sulit pula menggapai puncaknya,
tapi butuh waktu yang singkat
SEBALIKNYA
Semakin landai sebuah gunung
Semakin mudah pula menggapai puncaknya,
tapi butuh waktu yang lebih lama
Tapi
Puncak bukanlah tujuan akhir,
karena jalan menurun, telah siap untuk ditapaki
semakin sulit dan menyesatkan
menuju lembah tempat kembali
KODE ETIK PECINTA ALAM INDONESIA
“ PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA “
“PECINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KAMI KEPADA TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR ”
” PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA “
Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan :
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.
3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam
6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.
7. Selesai.
Disyahkan bersama dalam GLADIAN IV – 1974 Di Ujungpandang
SAJAK RIMBA
Kami adalah bayang-bayang, yang merayap di tengah jagad rimba
Berdiri di atas tanah, berjalan di atas awan
Berselimut kabut, bersahabat dengan udara yang menusuk raga
Menyerah bukanlah jalan, tetapi mati bukanlah tujuan
Jati diri adalah yang kami cari-cari
Ketika semua orang lelap dalam tidur
Kami ajak alam berdiskusi
Tentang kekuasaan tak terbatas
Alam adalah sahabat, guru dan musuh yang terkejam
Bertualanglah...........................dan ceritakan kepada dunia
Betapa lemahnya engkau dalam pelukan alam
Ceritakanlah..........................ceritakanlah.!
Karena setelah engkau mati, maka mereka yang akan bercerita tentang engkau.
Dan engkau tidak akan hidup sia-sia, hidupmu akan lebih berarti dan abadi.
Demikianlah kami yang hidup di tengah jagad rimba
Langganan:
Postingan (Atom)




















