Jumat, 18 Maret 2016

Setidak-tidaknya, istri kedua itu harus lebih shalihah dari yang pertama. Dan, rasanya sulit sekali menemukan si shalihah di hutan facebook ini.
Rasa-rasanya tidak mungkin wanita sholehah itu fesbukan, sibuk dengannya, ganti profil tiap 5 menit, chating ria, tertawa-tawa dengan lawan jenisnya, apalagi sampai menggoda suami muslimah lain?
Ah, yang benar saja?!
Jangan sembarang tebar code, karena mancing di air tawar pastinya dapat ikan air tawar. Tidak mungkin mancing disungai dapat air laut. Dan yang terpenting, tidak mungkin ikan datang kepangkuan tanpa umpan?
Jika antm memilih dia yang belum salihah, maka pastikan yang dirumah sudah salihah. Bukankah pernikahan itu mencari berkah, dan bukan cari masalah. Jangan sampai, selepas bulan madu yang kedua, bulan-bulan berikutnya adalah bulan-bulan penuh masalah. Berharap dua berkah, malah mendapati dua masalah.
Jangan terus membanyangkan bulan madu sepanjang tahun, karena bulan madu itu tidak lebih dari satu bulan. Bulan madu itu bulan pertama, bulan kedua adalah dua istri; dua masalah; dua mertua; dua keluarga; dan dua-duanya saling menuntut keadilan menurut versi masing-masing. Maka, jangan cari wanita asing..
Ya akhi..
Kebanyakan wanita difacebook ini orang asing, mereka hanya melihat sisi baik kita dan begitu pula dengan kita. Mereka belum siap menerima sifat buruk kita, dan demikian pun kita kelak. Coba perhatikan likers status kita, mereka rata-rata orang yang belum mengenal karakter asli kita. Jangan fokus pada madu dan melupakan sengatannya!

Manusia Berencana, Allah Menentukan
Beberapa rencana yang sudah tersusun rapi, agenda sudah fix, perjalanan sudah disiapkan, waktu sudah ditentukan, seolah olah sayalah pemilik waktu, sayalah pemilik semua rencana kerja ini, lupa memasrahkan diri bahwa saya hanya hamba, hanya penulis rencana, tapi bukan penentu rencana apalagi pemilik waktu. BUKAN, karena Allah lah pemilik segala kejadian dan waktu, manusia berencana, Allah yang menentukan, kapan saya harus berdiam, kapan saya harus pergi, siapa yang harus saya temukan...
Bahkan daun yang jatuhpun atas izin Allah, kadang kita manusia ini lupa membedakan mana KESOMBONGAN dan mana PERCAYA DIRI, terlalu tipis batasnya, sungguh kita ini lemah, hanya pemain, bukan sutradara penentu, hidup ditentukan ketika sang Sutradara berteriak "cut" atau berteriak "action" baru kita bergerak atau terdiam, selebihnya kita hanya bisa menebak nebak, bahkan satu detik kedepan kita tak pernah tahu, kemana kaki melangkah, tanggan tertunjuk, mata melihat, mulut bicara, bertemu dengan siapa, dan terhenti di lorong yang mana.
Karena kita hanya hamba, maka tugas kita adalah menghamba pada segala keputusanNya, selalu indah pada akhirnya, kali ini bongkar koper bukan karena melanjutkan perjalanan, tapi mengembalikannya ke lemari, menata lagi, berencana lagi, berpasrah lagi, diam tafakur ... tak semua takdir harus dipahami, karena tugas kita adalah menjalankan bukan memahami.

Sekali lagi, jangan terpedaya dengan hingar bingar dunia maya, sekali lagi yang terlihat belum tentu seindah aslinya, camera360 mampu membuat si hitam jadi putih, pict-art bisa membuat yang pendek jadi semampai, ini baru bicara wajah dan penampilan belum bicara karakter, realitanya memang demikian.
Banyak orang di sosial media memiliki karakter ganda, yang buruk bisa jadi berkarakter ustadz dan ustadzah, acting sebagai ahli dakwah padahal belajar agamanya hanya dari situs situs online, bukan dari bedah dan paham Quran dan hadits apalagi kitab kitab, ah mengerikan memang dunia maya ini..
Yang jelas jangan mudah tertipu dengan fantasi social media. Yang kita lihat keren, belum tentu sekeren kenyataannya dan yang JAUH lebih penting "KITA nya HARUS JUJUR" siapa kita, senyum kita, karakter kita, keberanian kita untuk tampil apa adanya. Sehingga yang benar-benar mau berteman dengan kita adalah mereka yang tersaring secara alami tanpa kepentingan basa-basi. Terseleksi dengan jernih tanpa manipulasi.
Seharusnya dunia mayamu sama dengan dunia nyatamu, agar kita tak di stempel sebagai pelaku modus, dunia maya memang ajang pamer, jangan sampai yang kita lihat ini menjadikan kita tak bersyukur pada Allah (kufur nikmat), merasa Allah tak adil, dia lebih sukses, lebih kaya, punya segalanya dan kita tidak dan sebagainya ... kira kira begitu bukan?