Minggu, 25 Desember 2011
Silence
Namun ada orang-orang yang menganggap sesuatu yang tak terjangkau itu justru memiliki daya tarik khusus... panggilan terbaik untuk orang-orang seperti ini adalah eksentrik; dan yang terburuk, gila.. (Walt Unsworth)
Budaya hiruk pikuk
Kebudayaan masyarakat kota yang semakin hiruk pikuk seakan tak menyisakan lagi ruang untuk diam dan merasakan kesendirian. Namun mungkin kebanyakan orang pun tak lagi memerlukannya karena kini semua serba cepat, bebas dan transparan. Isi hati yang paling rahasia pun diumbar penuh ekspresi di blog. Bahkan tanpa harus meminta ijin, privasi orang dapat dikorek-korek oleh media dengan tanpa belas kasihan.
Jaman yang serba materilalistik ini telah menyeret kita untuk selalu terlibat ke dalam hiruk pikuknya. Di dunia materi, ikon budaya seperti supermall, hypermarket dan superblock berlomba-lomba dibangun di perkotaan sebagai magnet untuk menyedot manusia menjadi kerumunan yang semakin homogen. Sementara dunia maya tumbuh liar dengan ikon-ikon expresifnya seperti web, blog, friensdter dan berbagai akses informasi lain yang tak berbatas.
Lalu ditengah cepat dan sumpeknya arus informasi ini, masihkah penting arti sebuah sunyi dan keheningan? Dalam kultur materialistik seperti sekarang, sepi hanyalah ide yang asing dan marjinal. Dianggap hanya milik mereka yang tak memiliki akses kepada pusat-pusat budaya.
Padahal sebenarnya di tengah hiruk pikuk yang semrawut, manusia membutuhkan diam dan sunyi. Bukan sepi negatif sebagai cara melarikan diri dari realita (eskapisme) namun sepi positif yang bermakna. Kesunyian positif adalah kesunyian yang melepaskan diri dari tawanan dunia dan menghantarkan manusia kepada pintu gerbang pengetahuan yang maha luas.
Sunyi yang bermakna
Dari Crone Chronicles: A Journal of Crone Conscious Aging edisi 1999 setidaknya dapat disimak beberapa manfaat yang menakjubkan dari kesunyian itu. Manusia akan menyadari bahwa dirinya bukan sekedar individu dan kepribadian yang terpisah, namun merupakan bagian yang satu dari alam semesta, bagian dari energi yang memberi kehidupan.
Lewat kesenyapan, kepekaan manusia lebih tajam dan jernih. Indra kepekaan kita kian kuat memaknai hidup. Bahasa-bahasa dari dunia di luar manusia akan mulai terbaca oleh kita. Udara yang bergerak, air mengalir, desir pepohonan dan aroma tanah basah – semuanya memberi arti.
Kesunyian membuat manusia mengakrabi dirinya sendiri dan mulai mengenal organ-organ tubuh dan sistem kebutuhannya.Hal ini membawa manusia lebih peduli pada penderitaan orang menjadikan kita lebih sabar dan bersikap tegar.
Masa-masa pencarian jati diri kerap diwarnai perjalanan ke final frontier bersama tim mencari keheningan alam. Namun terkadang juga perjalanan ini hanya dilakukan seorang diri saja, tanpa informasi dan tak disadari oleh yang lain. Dari sekedar hiking di kawasan Priangan hingga pendakian solo ke gunung yang tinggi seperti Rinjani dan Kerinci. Bahkan ada pula rekan yang sendirian menelusuri lekuk pantai Sancang yang penuh suasana klenik itu.
Saya dapat membayangkan kesunyian abadi yang melingkupi para lone ranger itu, terlebih saat pergerakan berhenti lalu gelap serta hawa malam mulai merasuk. Hanya suara-suara hutan dan sebatang lilin yang menyala gemetar menemani petualang melewati keheningan bisu. Apabila beruntung tak diguyur hujan, cahaya bintang akan memayungi langit malam.
Pemandangan terindah
Sensasi apa yang mereka dapati seusai menuntaskan perjalanan spiritualnya tersebut merupakan suatu misteri. Apakah mereka melakukannya sebagai sebuah pelampiasan ego nya ataukah suatu pencarian yang bermakna. Namun yang paling menggelitik tentunya apakah para pengembara itu menikmati kesendiriannya yang nun jauh ditengah belantara hutan, jauh dari desa-desa terluar sekalipun.
Setelah turun dari pendakian gunung Sumbing (3371 mtr dpl) di Jawa Tengah bersama tim, saya berkesempatan melanjutkan pendakian ke gunung Sindoro (3153 mtr dpl) sementara yang lain kembali pulang ke Bandung. Dua hari kemudian dalam perjalanan turun dari pendakian gunung Sindoro, tak lama setelah fajar saya turun dari kaki gunung dan kemudian mulai memasuki lahan perkebunan.
Entahlah bila saya dinilai gagal dalam menikmati sunyi dan kesendirian, namun pemandangan terindah ketika melakukan perjalanan sendiri saat itu adalah momen berpapasan kembali dengan penduduk desa. Dalam suasana temaram masih diliputi kabut, dari kejauhan terlihat siluet para petani datang dalam sinar matahari pagi yang putih. Momen yang menggetarkan itu membuncahkan sensasi tersendiri dan membuat saya menyadari bahwa pemandangan terindah adalah manusia itu sendiri...
Inspiring : SAhabat
Kau Bukan Sang Penakluk...
Kau tidak pernah menaklukan sebuah gunung.
Kau hanya berdiri di puncaknya selama beberapa detik.
Kemudian tiupan angin menghilangkan jejak-jejak kakimu.
Ide untuk menaklukan alam merupakan obyek pemikiran manusia yang abadi. Manusia seakan tak rela ada kekuatan besar yang membuat ego mereka seperti tak berdaya. Maka berangkatlah para pionir dengan gagah berani untuk menaklukan final frontier dimanapun di segala penjuru bumi. Alam yang ganas harus dapat ditaklukan untuk kemaslahatan umat manusia. Seakan bumi yang lapang terlalu sesak bagi dua kekuatan besar alam dan manusia untuk saling berbagi. Seakan hanya boleh ada satu kekuatan saja yang dapat menguasai bumi, yaitu manusia.
Namun para petualang dan pionir yang pergi menjelajah bukannya tak menyadari kepongahan awal mereka. Para pemberani itu segera mendapatkan hikmah dari penjelajahannya bahwa alam tak dapat dilawan bahkan ditaklukan, manusia hanya bisa berdamai dengan kekuatannya. Yang perlu ditaklukan adalah ego yang menguasai diri manusia itu sendiri, dan alam adalah guru yang baik untuk mengajarkan hal itu. Sir Edmund Hillary – pendaki pertama yang mencapai Everest - menyadari betul hal itu ketika berkata ,” It is not the mountain we conquer, but ourselves...”.
Para penakluk
Kutub Utara berhasil ditaklukan oleh Robert Peary pada tahun 1909 dan kemudian pada tahun 1911 Kutub Selatan menyusul berhasil ditaklukan oleh Amundsen. Ketika itu, Everest kerap dijuluki sebagai Kutub Ketiga yang merupakan kontur bumi paling menarik untuk dijelajahi. Setiap pendaki profesional mendambakan suatu saat dapat menaklukan puncak tertinggi di dunia itu.
Kemudian setelah Hillary dan Tenzing berhasil menjejakkan kaki mereka di puncak Everest, semua bertanya-tanya penjelajahan ekstrim apa lagi yang dapat dilakukan oleh seorang manusia. Dick Bass dan Pat Morrow memunculkan wacana Seven Summits yang bertujuan mengoleksi tujuh puncak tertinggi di tiap benua. Adapula ide untuk mendaki keseluruh 14 “puncak kematian” di gunung-gunung berketinggian diatas 8000 meter di Pegunungan Himalaya.
Tercatat hanya lima orang pendaki di dunia yang berhasil mengoleksi keseluruh 14 puncak yang merupakan piala paling didamba para pendaki elite itu. Reinhold Messner, pendaki pertama yang berhasil memuncaki keempatbelas gunung kematian itu, menyebutkan bahwa tantangan sesungguhnya pada pendakian puncak 8000 meter adalah pendakian yang dilakukan tanpa alat bantu oksigen. Itulah batas ketahanan maksimal seorang pendaki. Entah ide “gila” apa lagi yang akan muncul kemudian untuk menjajal keperkasaan alam.
Menaklukan alam seperti mendaki puncak-puncak gunung merupakan ide yang menggoda para petualang. Namun jauh hari setelah melewati berbagai petualangan barulah mereka menyadari bahwa manfaat sebenarnya dari perjalanannya itu bukanlah masalah menaklukan alam, karena kekuatan alam terlampau besar untuk dilawan. Menaklukan diri sendiri merupakan pencapaian tertinggi dari perjalanan itu, dan Sang Alam lah guru yang mampu memberi petunjuknya.
Mencintai alam
Banyak pendaki yang pergi untuk menaklukkan puncak gunung hanya untuk suatu saat kembali padanya. Apakah anda hanya mendaki gunung Gede atau berarung jeram di sungai Cimanuk hanya sekali saja seumur hidup? Tidak, ada hasrat yang mendorong petualang kembali kesana. Mungkin ketika pertama kali melakukannya kita merasa tertantang untuk menaklukan puncak gunung setinggi 2.958 m atau jeram dengan grade 3-4 itu demi memuaskan ego. Namun ketika mendatangi untuk kesekian kalinya, baru kita tersadar bahwa rasa cintalah yang membawa kembali kesana. Dan ketika rasa cinta telah menjalari, tak sebersitpun terpikir untuk menaklukan. Hanya ada kerinduan yang sangat dan kegelisahan yang menyiksa untuk dapat bersua.
Para petualang menyadari hal itu sehingga tak pernah mengharapkan balasan apapun dari sang alam selain dapat sekedar kembali bercengkerama dengannya. Saya yakin bahwa ketulusan untuk mencinta tak pernah sia-sia. Maka ketika kita menjelajahi alam dengan rasa cinta alam yang sesungguhnya, alam pun membalas sepenuhnya.
Sang alam berbinar-binar ketika petualang melewati berbagai tempaan berat hanya untuk mendatanginya kembali. Siapakah yang tak bahagia didatangi oleh kekasihnya? Terkadang sang alam memang menghadirkan badai dahsyat dan bencana, bukan untuk mencelakakan namun hanya untuk memberikan kekuatan lebih pada petualang. Bukankah dengan demikian mereka akan menjadi lebih tabah, arif dan matang.
Cinta yang agung
Maka ketika ada insan petualang yang roboh di gunung tinggi atau tewas ditelan jeram, tak hanya sesama manusia yang meratapi kehilangannya namun sang alam pun menangis sendu. Sosok jenazah itu ia peluk dengan doa-doa dan keharuan yang mendalam sebelum sesama manusia menjemputnya untuk ditempatkan di peristirahatan yang terakhir. Hingga kini pun masih banyak sosok insan petualang yang gugur tak diketahui rimbanya. Barangkali sang alam masih teramat mencintai mereka dengan alasan yang tak dapat kita pahami.
Ada aura percintaan misterius yang terjalin antara sang petualang dan alam yang didatanginya. Mereka yang pergi melakukan petualangan seperti mendaki gunung atau mengarungi jeram berpikir telah melakukannya dengan cinta. Barangkali mereka tak pernah tahu bahwa sang alam menyayangi mereka dengan berlipat-lipat. Cintanya yang besar kepada manusia tak akan pernah habis. Ia bahkan selalu melindungi mereka dari kekuatannya sendiri yang maha penghancur.
Dan bila Tuhan memerintahkannya mengambil nyawa mereka, sang alam pun dengan bersujud membelai mereka sebelum menyerahkan nyawa para manusia terpilih itu pada Sang Pencipta. Sang alam melakukannya dengan tersenyum, karena saat itu ada cinta lebih besar yang datang bagi manusia. Ia tahu Tuhan memerintahkannya mengambil hidup manusia karena suatu kecintaan yang lebih agung dan tak tertakar. Lebih dari semua cinta yang dapat ia beri kepada ...
Isnpiring: Sahabat.."
Puncak,...Sebuah kerendahan hati...
Kerendahan hati mengalirkan kebaikan
Mendaki gunung adalah peristiwa yang menakjubkan. Bagi mereka yang pernah berdiri di puncak tertinggi, pasti merasakan hati yang berdesir saat menyaksikan salah satu pemandangan paling menakjubkan seumur hidupnya. Sensasi untuk berdiri di titik paling tinggi merupakan sebuah pencapaian tersendiri yang tak terungkapkan. Semua rasa lelah dan penderitaan dalam menempuh perjalanan berat penuh bahaya seolah tiada berarti.
Selama dalam perjalanan maupun saat di puncak, akan terbukalah mata hati betapa kecilnya manusia dibanding keperkasaan alam dan Sang Pencipta. Siapapun akan tertegun melihat landscape keindahan tiada tara yang dapat disaksikan dari puncak gunung. Karya arsitektur manusia paling memukau sekalipun seperti tak berharga dibandingkan kontur alam yang menakjubkan ini. Menyaksikan sun rise dari puncak gunung adalah momen paling sulit untuk membendung takjub, terpukau oleh fenomena yang mengaduk-aduk emosi.
Alangkah tak wajar bila seorang pendaki malah menjadi tinggi hati setelah melakukan pendakian. Bukankah hanya dengan keramahan dan kelembutan alam saja seorang pendaki dapat menapaki jalan ke puncak. Banyak pendakian yang berakhir tragis, saat alam menjadi tak ramah. Sanggupkah kiranya mahluk lemah seperti manusia berkutik menghadapi kekuatan alam yang tak tertakar? Seorang pendaki sejati pulang dengan kerendahan hati yang semakin membuatnya terpekur.
Edmund Hillary yang merupakan pendaki pertama yang mencapai puncak tertinggi di dunia adalah sebuah contoh kerendahan hati itu. Ia selalu menyebut dengan “kami” dalam pemuncakannya yang legendaris di Everest. Baru sekian tahun setelah Tenzing Norgay – sherpanya saat detik-detik pemuncakan Everest- meninggal, Hillary mengakui bahwa ialah yang pertama mencapai puncak tertinggi di dunia itu.
Hilary pun tak sekedar mendaki Everest, yayasan Himalayan Trust yang didirikannya membantu membangun rumah sakit, sekolah, sarana kesehatan, jembatan bahkan landasan pesawat yang sangat membantu masyarakat sherpa di Kumbu, Nepal. Hingga akhir hidupnya Hillary tetaplah seorang yang rendah hati dan gemar hidup sederhana.
Padahal pendaki yang memiliki raut muka sekeras batu karang ini bagai pusaka nasional di negaranya, Selandia Baru.
Kata-katanya amat berpengaruh dan dihormati. Ratu Inggris menganugerahinya gelar Sir dan wajahnya pun diabadikan dalam lembaran kertas lima dolar mata uang Selandia Baru. Para pemandu profesional yang biasa mengantar tim ke Everest pernah kelabakan ketika Hillary mengkritik komersialisasi Everest dan menyebutnya sebagai “penghinaan pada gunung tersebut”. Sang legenda Everest ini begitu menghormati Himalaya dan kehidupan di sekitarnya. Sir Edmund Hillary wafat tanggal 11 Januari 2008 lalu dengan meninggalkan banyak kenangan dan jejak kebaikan.
Saya rasa tak penting menceritakan berapa kali kita telah mendaki sebuah gunung atau kemana saja kita telah melakukan pendakian. Namun apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik setelah melakukannnya. Apakah kita telah memberikan manfaat bagi sesama dan menjadi pribadi yang indah bagi orang lain. Saya teringat segelintir pahlawan yang selalu enggan membicarakan jasa-jasanya bila ada yang bertanya. “Biarlah Tuhan saja yang menilai”, tuturnya. Menakjubkan...
InSpiring: Sahabat.."
Langganan:
Postingan (Atom)


